Beritagosip.com Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah dilaporkan mewabah di India. Meski jarang terjadi, ancaman virus ini tergolong serius dan tidak dapat diabaikan.
Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa virus Nipah termasuk penyakit zoonotik dengan karakteristik berat. Risiko wabah dapat meningkat apabila pencegahan tidak dilakukan secara tepat.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada wabah di Malaysia pada 1998. Sejak saat itu, kasus berulang muncul di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Penyebaran virus Nipah berdampak luas terhadap kesehatan manusia, kesehatan hewan, serta kondisi sosial dan ekonomi. Oleh sebab itu, pemahaman berbasis kajian ilmiah dinilai sangat penting.
Virus ini termasuk genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus. Kelelawar dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala klinis.
Penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi. Risiko juga muncul dari konsumsi makanan yang terkontaminasi urine atau saliva kelelawar.
Penularan antarmanusia turut tercatat dalam beberapa kejadian wabah. Pola ini memperbesar potensi penyebaran virus Nipah di wilayah dengan interaksi sosial tinggi.
Di Indonesia, sejumlah penelitian telah membuktikan keberadaan virus Nipah pada satwa liar. Studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus.
Deteksi molekuler menggunakan metode PCR juga dilakukan pada sampel saliva dan urine kelelawar di Sumatra Utara. Hasilnya mengonfirmasi keberadaan genom virus Nipah.
Penelitian lanjutan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa. Karakter genetiknya berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lain.
Kondisi ekologis Indonesia dinilai meningkatkan risiko penyebaran virus Nipah. Keanekaragaman kelelawar yang tinggi dan kedekatan habitat satwa dengan permukiman menjadi faktor utama.
Praktik perburuan, perdagangan satwa, serta keberadaan pasar hewan dengan sanitasi rendah turut memperbesar risiko penularan lintas spesies. Populasi babi yang besar di beberapa wilayah juga berperan.
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik untuk Nipah virus. Penanganan kasus bergantung pada perawatan suportif, sehingga pencegahan menjadi langkah paling krusial.
BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia. Deteksi dini dianggap penting untuk mencegah meluasnya penyebaran virus Nipah.
Pendekatan One Health menjadi strategi utama dalam menghadapi ancaman ini. Kolaborasi lintas sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dinilai sebagai kunci pengendalian zoonosis.
Peningkatan edukasi publik juga diperlukan agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar. Kesadaran terhadap risiko konsumsi pangan terkontaminasi perlu terus diperkuat.
Hasil riset diharapkan menjadi dasar kebijakan nasional pencegahan penyakit emerging dan re-emerging. Penguatan riset dan kesiapsiagaan dinilai menentukan kemampuan Indonesia menghadapi ancaman virus Nipah.