Beritagosip.com Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan individu-individu yang terseret dalam kasus kejahatan seksual Amerika Serikat, Jeffrey Epstein.
Bantahan tersebut disampaikan setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat atau DOJ merilis dokumen lama berisi pertukaran email yang mencantumkan nama Anwar Ibrahim.
Dalam unggahan di media sosial Facebook, Anwar menyatakan baru mengetahui adanya pihak eksternal yang mencoba mencatut namanya dalam korespondensi terkait kasus Jeffrey Epstein.
Ia menegaskan bahwa peristiwa yang disebut dalam Dokumen DOJ tersebut terjadi lebih dari satu dekade lalu.
Anwar menekankan dirinya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pertukaran email itu, terutama Jeffrey Epstein.
Pernyataan ini disampaikan Anwar setelah sayap pemuda Partai Pribumi Bersatu Malaysia mendesaknya memberikan klarifikasi terbuka.
Tekanan itu muncul menyusul publikasi Dokumen DOJ sebagai bagian dari kebijakan keterbukaan penyelidikan kasus Jeffrey Epstein.
Dalam pernyataannya, Anwar Ibrahim juga menegaskan bahwa isu tersebut telah dijelaskan secara tuntas.
Ia bahkan menyertakan tagar #DoneExplain dalam unggahannya sebagai penanda bahwa klarifikasi telah diberikan.
Setelah menyampaikan bantahan, Anwar menulis akan melanjutkan aktivitas pribadinya di Johor Bahru.
Ia juga menambahkan ekspresi ketidaksenangan saat kembali menyebut nama Jeffrey Epstein dalam unggahan tersebut.
Sebelumnya, pada Jumat lalu, nama Anwar Ibrahim muncul bersama sejumlah tokoh global lainnya.
Tokoh-tokoh tersebut termasuk Bill Gates dan mantan Pangeran Inggris Andrew dalam materi kasus Epstein yang dipublikasikan DOJ.
Salah satu cuplikan email bertanggal 21 Februari 2012 memperlihatkan seorang rekan Epstein mempertanyakan urgensi pertemuan antara Anwar dan sosok bernama “Jes.”
Identitas pengirim email tersebut dirahasiakan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat.
Email itu membahas potensi pertemuan yang dikaitkan dengan kepentingan JPMorgan Chase.
Nama “Jes” merujuk pada Jes Staley yang saat itu menjabat sebagai CEO bank investasi tersebut.
Dalam email tersebut disebutkan bahwa Anwar Ibrahim dinilai memiliki potensi strategis jika kelak menjadi Perdana Menteri Malaysia.
Saat email itu ditulis, Anwar masih berstatus sebagai pemimpin oposisi dan tengah mempersiapkan diri menghadapi pemilu Malaysia 2013.
Anwar baru resmi menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia satu dekade kemudian, yakni pada 2022.
Rekan Epstein dalam email tersebut mengklaim mengenal Anwar dengan baik dan menyebut posisinya kembali menguat secara politik.
Jeffrey Epstein kemudian membalas email itu dengan mengusulkan pertemuan pada Mei tahun yang sama.
Ia menanyakan rencana perjalanan Anwar ke Amerika Serikat atau Eropa sebagai bagian dari kemungkinan pertemuan.
Epstein juga mengusulkan daya tarik industri film Hollywood di Malaysia sebagai bahan pembicaraan.
Ia bahkan menyebut nama Woody Allen dan klaim bahwa sejumlah negara menawarkan pendanaan agar sang sutradara membuat film di wilayah mereka.
Meski demikian, Dokumen DOJ tidak menunjukkan adanya indikasi bahwa Anwar Ibrahim mengetahui atau terlibat langsung dalam percakapan email tersebut.
Tidak ada bukti yang menyatakan Anwar ikut serta dalam rencana atau komunikasi yang dibahas.
Walau begitu, kemunculan nama Anwar Ibrahim dalam dokumen kasus Jeffrey Epstein memicu spekulasi luas di media sosial Malaysia.
Isu tersebut berkembang cepat sebelum akhirnya dibantah langsung oleh Anwar melalui pernyataan resminya.