Beritagosip.com Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi dunia yang hilang di dasar Samudra Atlantik yang tersembunyi jauh dari jangkauan cahaya matahari. Lokasi ini digambarkan sebagai lanskap menara raksasa yang telah bertahan puluhan ribu tahun. Para peneliti menilai kawasan ini menyimpan petunjuk krusial terkait asal-usul kehidupan di Bumi.
Kota bawah laut Lost City Hydrothermal Field berada lebih dari 700 meter di bawah permukaan laut. Lokasinya terletak dekat puncak gunung bawah laut di sisi barat Mid-Atlantic Ridge. Struktur karbonat di kawasan ini menjulang menyerupai menara dan monolit. Tingginya bervariasi, mulai dari beberapa meter hingga melampaui 60 meter.
Lost City Hydrothermal Field pertama kali ditemukan pada tahun 2000. Hingga saat ini, kawasan tersebut dikenal sebagai ventilasi hidrotermal tertua yang pernah tercatat di lautan. Science Alert melaporkan temuan ini pada Jumat (30/1/2026). Para peneliti memperkirakan sistem tersebut telah aktif setidaknya selama 120.000 tahun. Usia ini jauh melampaui sistem hidrotermal lain yang pernah diteliti.
Keistimewaan kota bawah laut Lost City terletak pada proses kimia internalnya. Di kawasan ini, mantel Bumi bereaksi langsung dengan air laut. Reaksi tersebut menghasilkan hidrogen, metana, serta hidrokarbon. Proses ini berlangsung tanpa keterlibatan sinar matahari maupun karbon dioksida dari atmosfer.
Hidrokarbon yang terbentuk menjadi sumber energi utama bagi komunitas mikroba. Mikroorganisme tersebut hidup di celah-celah ventilasi hidrotermal. Kehidupan tetap berlangsung meski tanpa oksigen. Kondisi ini membuat dunia yang hilang di dasar Samudra Atlantik dipandang sebagai analog lingkungan awal Bumi. Situasi serupa diyakini hadir saat kehidupan pertama kali muncul miliaran tahun lalu.
Pada tahun 2024, para ilmuwan mencatat pencapaian penting di kawasan ini. Mereka berhasil mengambil sampel batu mantel sepanjang 1.268 meter dari wilayah Lost City Hydrothermal Field. Rekor ini menjadi tonggak baru dalam penelitian laut dalam. Sampel tersebut diharapkan memberi bukti langsung mengenai kondisi geologis dan kimia yang mendukung kemunculan kehidupan.
Ekosistem Lost City juga menunjukkan perbedaan mencolok dibanding ventilasi vulkanik bawah laut. Ventilasi vulkanik tersebut dikenal sebagai black smokers. Black smokers bergantung pada panas magma. Sistem ini menghasilkan mineral kaya besi dan sulfur. Sebaliknya, Lost City memproduksi hidrogen dan metana hingga 100 kali lebih banyak. Kawasan ini juga membentuk cerobong kalsit berukuran raksasa.
Salah satu struktur paling terkenal di wilayah ini adalah monolit bernama Poseidon. Tingginya melampaui 60 meter. Di sekelilingnya, para peneliti menemukan ventilasi unik. Ventilasi tersebut tampak seperti “menangis”. Cairan yang keluar membentuk gugusan karbonat yang menyerupai jari-jari tangan.
Para ilmuwan menilai ekosistem serupa mungkin masih aktif di luar Bumi. Lingkungan seperti ini diperkirakan ada di bulan Enceladus milik Saturnus. Kemungkinan serupa juga dikaitkan dengan Europa milik Jupiter. Beberapa ahli bahkan menduga kondisi sejenis pernah ada di Mars pada masa lalu.
Meski memiliki nilai ilmiah tinggi, keberadaan Lost City menghadapi ancaman serius. Pada 2018, Polandia memperoleh hak penambangan laut dalam di sekitar kawasan tersebut. Ladang hidrotermalnya tidak mengandung sumber daya bernilai ekonomi. Namun, aktivitas penambangan di area sekitarnya dikhawatirkan merusak habitat unik ini.
Sejumlah pakar mendorong langkah perlindungan jangka panjang. Mereka mengusulkan agar Lost City Hydrothermal Field ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia. Penetapan ini dianggap penting untuk menjaga dunia yang hilang di dasar Samudra Atlantik dari kerusakan permanen.