Beritagosip.com Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara meningkatkan kewaspadaan terhadap Virus Nipah. Langkah ini dilakukan setelah terbit Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI terkait kewaspadaan penyakit tersebut.
Surat edaran bernomor HK.02.02/C/445/2026 menjadi dasar penguatan sistem pencegahan. Fokus utama diarahkan pada deteksi dini dan respons cepat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumut, Novita Saragih, menyatakan seluruh wilayah diminta bersiaga. Upaya ini mencakup kabupaten dan kota di Sumatera Utara.
Pendampingan juga dilakukan terhadap rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan. Seluruh pihak diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap Virus Nipah.
Novita menjelaskan bahwa setiap temuan sindrom yang mengarah pada Virus Nipah harus ditindaklanjuti segera. Respons maksimal ditetapkan kurang dari 24 jam.
Menurutnya, kewaspadaan Virus Nipah tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Diperlukan koordinasi lintas sektor agar penanganan berjalan efektif.
Dinkes Sumut menjalin kerja sama dengan berbagai instansi. Pihak yang terlibat antara lain BBKK Medan, BLKM Medan, dan RS Adam Malik.
Koordinasi juga dilakukan bersama Dinas Kominfo, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta Polda Sumut. Langkah ini bertujuan memperkuat pengawasan dan respons lapangan.
Novita menegaskan potensi penularan Virus Nipah dapat bersumber dari hewan. Kelelawar dan babi menjadi perhatian utama dalam upaya pencegahan.
Ia menyebut hewan tersebut berisiko menularkan virus, baik sebagai peliharaan maupun bahan konsumsi. Karena itu, kewaspadaan terhadap sumber zoonotik perlu ditingkatkan.
Virus Nipah dikenal sebagai penyakit zoonotik emerging. Penyakit ini disebabkan virus dari genus Henipavirus dalam famili Paramyxoviridae.
Reservoir alami Virus Nipah terdapat pada kelelawar buah jenis Pteropus. Penularan ke manusia dapat terjadi melalui berbagai jalur.
Penularan dapat berlangsung secara langsung dari hewan. Virus juga dapat menyebar melalui hewan perantara seperti babi.
Selain itu, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi turut menjadi faktor risiko. Kontak erat dengan penderita memungkinkan penularan antarmanusia.
Gejala klinis Virus Nipah bersifat bervariasi. Kondisi dapat dimulai dari infeksi saluran pernapasan akut.
Dalam kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kematian.
Novita menyebut tingkat fatalitas Virus Nipah cukup tinggi. Angkanya berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Terkait pengawasan di pintu masuk wilayah, Novita menjelaskan peran BBKK Medan. Pemeriksaan dilakukan di bandara dan pelabuhan di Sumatera Utara.
Jika ditemukan penumpang dengan kondisi mencurigakan, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan. Koordinasi dengan dinas kesehatan setempat juga segera dijalankan.
Dinkes Sumut turut menanggapi kekhawatiran masyarakat. Salah satu perhatian adalah konsumsi kelelawar di sejumlah wilayah.
Masyarakat diimbau lebih disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko penularan.
Novita mengingatkan agar seluruh makanan dikonsumsi dalam kondisi matang. Penggunaan masker saat sakit juga dianjurkan.
Masyarakat diminta menghindari kerumunan jika tidak diperlukan. Langkah sederhana ini dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit.
Sebagai pencegahan tambahan, Dinkes Sumut mengeluarkan sejumlah imbauan. Salah satunya adalah tidak mengonsumsi nira atau air aren langsung dari pohon.
Buah dianjurkan dicuci dan dikupas secara menyeluruh. Buah dengan bekas gigitan kelelawar sebaiknya tidak dikonsumsi.
Daging ternak harus dimasak hingga benar-benar matang. Kontak dengan hewan yang sakit juga perlu dihindari.
Petugas pemotong hewan diminta menggunakan alat pelindung diri. Penerapan PHBS di lingkungan sekitar tetap menjadi prioritas.
Selain itu, pemasangan jaring atau pelindung pada kandang hewan dianjurkan. Langkah ini bertujuan mencegah kontak dengan hewan pembawa virus.
Novita menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat. Kewaspadaan bersama dinilai menjadi kunci pencegahan.
Dengan koordinasi lintas sektor dan kesadaran publik, potensi penularan Virus Nipah diharapkan dapat ditekan sejak dini.