Beritagosip.com Iran menyatakan akan mempertimbangkan pengurangan pengayaan uranium apabila Amerika Serikat mencabut seluruh sanksi yang diberlakukan terhadap Teheran.
Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyebut kesiapan tersebut bergantung pada pencabutan penuh sanksi ekonomi oleh AS. Ia menegaskan langkah itu hanya akan diambil jika imbalan yang dijanjikan benar-benar terlaksana.
Mohammad Eslami menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin (9/2). Ia menekankan bahwa kemungkinan Iran memangkas pengayaan uranium sangat bergantung pada keputusan Washington.
Pernyataan itu muncul setelah Iran dan AS menggelar pembicaraan terkait program nuklir Teheran. Pertemuan tersebut berlangsung pada Jumat (6/2) di Oman dan direncanakan berlanjut ke putaran kedua.
Amerika Serikat sebelumnya mendesak Iran kembali ke meja perundingan. Tekanan tersebut disertai dengan siaga armada perang AS di sekitar wilayah Iran.
Dalam tuntutannya, AS meminta Iran menghentikan pengembangan program nuklir. Badan nuklir PBB mencatat Iran memiliki lebih dari 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen.
Tingkat pengayaan tersebut dinilai mendekati batas senjata nuklir yang mencapai 90 persen. Isu ini menjadi salah satu titik utama perselisihan dalam negosiasi.
Mohammad Eslami juga menegaskan tidak ada pembahasan mengenai pengiriman uranium Iran ke luar negeri. Ia membantah laporan yang menyebut AS meminta langkah tersebut.
Sebelumnya, AS memang dikabarkan menginginkan uranium Iran dipindahkan ke luar wilayah negara itu. Namun, hal tersebut disebut tidak masuk dalam agenda perundingan terbaru.
Kantor berita Tasnim melaporkan penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yakni Ali Larijani, dijadwalkan mengunjungi Oman pada Selasa (10/2). Kunjungan itu bertujuan membahas situasi kawasan dan kerja sama bilateral.
Hingga kini, belum ada pengumuman resmi terkait waktu dan lokasi putaran kedua negosiasi nuklir AS-Iran. Proses diplomasi masih berada pada tahap awal lanjutan.
Pada tahun lalu, Iran dan AS telah menjalani lima putaran pembicaraan nuklir. Negosiasi tersebut gagal mencapai kesepakatan karena perbedaan pandangan soal pengayaan uranium.
Pada Juni 2025, AS menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran setelah dorongan dari Israel. Sejak peristiwa itu, Iran mengklaim telah menghentikan aktivitas pengayaan uranium.
Israel menilai Iran masih berupaya melanjutkan pengembangan nuklir. Sementara itu, Teheran menegaskan program nuklir Iran hanya ditujukan untuk kepentingan damai.
Sejak Januari, kapal perang dan jet tempur AS dikerahkan di sekitar Iran. Pengerahan tersebut awalnya dikaitkan dengan situasi domestik Iran yang dilanda demonstrasi besar.
Belakangan, Presiden AS Donald Trump mengaitkan pengerahan militer itu dengan isu program nuklir Iran. Trump juga disebut menuntut Iran menghentikan pengembangan rudal balistik.
Iran menolak tuntutan tersebut dan meminta AS tetap fokus pada pembahasan nuklir. Sikap ini mempertegas posisi Iran dalam negosiasi yang masih berlanjut.