Beritagosip.com Fenomena hotel tanpa lantai 13 sering ditemukan pada banyak hotel ternama di berbagai negara. Meski tidak berlaku di semua properti, ketiadaan nomor lantai tersebut kerap memancing rasa penasaran. Sebagian tamu menganggapnya hal biasa, sementara lainnya mempertanyakan apakah lantai itu benar-benar tidak dibangun atau hanya dihilangkan dari penomoran.
Tidak terdapat aturan resmi yang melarang penggunaan lantai 13 di hotel. Keputusan ini sepenuhnya berada di tangan manajemen hotel yang berorientasi pada kebutuhan dan kenyamanan tamu. Alasan hotel tidak punya lantai 13 umumnya tidak berkaitan dengan aspek teknis bangunan.
Fenomena hotel tanpa lantai 13 lebih sering dikaitkan dengan faktor psikologis dan pertimbangan bisnis. Penelitian yang dimuat dalam International Journal of Culture, Tourism and Hospitality Research menunjukkan bahwa hotel jaringan internasional lebih sering menghilangkan nomor lantai 13 dibandingkan hotel independen. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan latar budaya tamu yang beragam.
Langkah tersebut bertujuan mengakomodasi sensitivitas sebagian tamu terhadap angka tertentu. Angka 13 di sejumlah budaya Barat kerap diasosiasikan dengan kesialan. Persepsi ini dinilai cukup kuat untuk memengaruhi keputusan menginap.
Pakar perilaku konsumen properti dari Cornell University School of Hotel Administration, Michael Lynn, menjelaskan bahwa industri perhotelan sangat memperhatikan persepsi tamu. Menurutnya, rasa tidak nyaman sekecil apa pun dapat berdampak pada pengalaman menginap.
“Angka 13 di banyak budaya Barat dianggap membawa kesialan sehingga sebagian tamu merasa tidak nyaman menginap di lantai tersebut,” ujar Michael Lynn. Ia menilai kebijakan ini lebih tepat disebut sebagai manajemen persepsi daripada keputusan struktural.
Dalam praktiknya, lantai 13 di hotel sebenarnya tetap ada secara fisik. Namun, penomorannya sering kali langsung melompat dari lantai 12 ke lantai 14. Cara ini dianggap efektif untuk menghindari kesan negatif tanpa harus mengubah struktur bangunan.
Pandangan serupa disampaikan oleh Profesor Psikologi Lingkungan dari City University of New York, Seymour Wapner. Ia menyebut bahwa kepercayaan terhadap angka tertentu dapat memengaruhi cara seseorang merasakan sebuah ruang.
“Dalam konteks hotel, rasa tidak nyaman sekecil apa pun dapat berdampak pada kepuasan tamu,” kata Seymour Wapner. Oleh karena itu, operator hotel cenderung menghindari penggunaan angka 13 demi menjaga pengalaman positif.
Strategi ini dipandang sebagai bagian dari pendekatan pemasaran berbasis psikologi tamu hotel. Tujuannya adalah meminimalkan potensi keluhan dan menjaga tingkat hunian tetap optimal. Tidak ada kaitan kebijakan tersebut dengan aturan keselamatan atau konstruksi bangunan.
Praktik menghilangkan lantai 13 tidak hanya diterapkan di hotel. Sejumlah apartemen dan gedung perkantoran juga menerapkan kebijakan serupa, terutama yang menyasar pasar internasional. Dengan demikian, alasan hotel tidak punya lantai 13 lebih mencerminkan pertimbangan bisnis dan persepsi konsumen dibandingkan faktor teknis semata.