Beritagosip.com harga minyak dunia naik pada perdagangan Jumat 20 Februari seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini kembali mencuat setelah pernyataan keras disampaikan Presiden AS, Donald Trump, terkait kesepakatan nuklir.
Trump menyebut Iran akan menghadapi konsekuensi serius apabila tidak menyetujui perjanjian nuklir dalam beberapa hari ke depan. Ancaman Trump ke Iran tersebut langsung memicu respons pasar energi global yang sensitif terhadap risiko geopolitik.
Mengutip Reuters, harga minyak kontrak berjangka Brent naik 21 sen atau 0,3 persen ke level US$71,87 per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat menguat 23 sen atau 0,4 persen menjadi US$66,66 per barel.
Sehari sebelumnya, Trump menegaskan Iran akan mengalami hal buruk jika tidak mencapai kesepakatan terkait program nuklir. Ia menetapkan tenggat waktu antara 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk menyepakati kesepakatan dengan AS.
Di sisi lain, Iran dilaporkan merencanakan latihan militer laut bersama Rusia. Media setempat menyebut latihan tersebut dijadwalkan berlangsung beberapa hari setelah Iran sempat menutup sementara Selat Hormuz untuk kepentingan latihan militer.
Konflik AS Iran dinilai berpotensi mengganggu pasokan minyak global. Wilayah tersebut merupakan jalur strategis distribusi energi dunia sehingga ketegangan dapat langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Kenaikan harga minyak dunia juga dipengaruhi faktor fundamental dari Amerika Serikat. Laporan menunjukkan penurunan cadangan minyak mentah serta terbatasnya ekspor, ditambah berkurangnya pasokan dari sejumlah negara produsen utama.
Berdasarkan laporan Administrasi Informasi Energi pada Kamis 19 Februari, stok minyak mentah AS turun sekitar 9 juta barel. Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya aktivitas pengolahan dan ekspor.
Sementara itu, data dari Joint Organizations Data Initiative mencatat ekspor minyak dari Arab Saudi turun menjadi 6,988 juta barel per hari pada Desember 2025. Angka tersebut menjadi level terendah sejak September dari salah satu eksportir minyak terbesar dunia.