Beritagosip.com Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan serangan ke Iran memunculkan pertanyaan besar terkait tujuan Trump menyerang Iran dan arah kebijakan Washington. Ketegangan ini membuka kemungkinan konflik AS Iran, baik dalam skala terbatas maupun berkepanjangan.
Hingga saat ini, Trump belum menyampaikan gambaran rinci mengenai sasaran jangka panjang Amerika Serikat apabila ketegangan berubah menjadi konfrontasi militer terbuka. Ketidakjelasan ini menimbulkan kekhawatiran karena langkah militer AS berpotensi mengguncang ketegangan Timur Tengah secara luas.
Presiden ke-47 Amerika Serikat tersebut telah mengerahkan kapal perang serta puluhan jet tempur ke kawasan Timur Tengah. Penguatan ini menunjukkan bahwa opsi serangan militer AS ke Iran tidak lagi bersifat teoritis.
Sejumlah skenario disebut tersedia, mulai dari serangan presisi terhadap Korps Garda Revolusi Iran sebagai pilar utama kekuasaan di Teheran. Opsi lain mencakup penghancuran program rudal Iran, sejalan dengan kepentingan Israel di kawasan.
Laporan media internasional bahkan menyebut kemungkinan ekstrem berupa serangan langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Skenario ini dinilai akan membawa konflik AS Iran ke level yang jauh lebih berbahaya.
Trump menyatakan pada Kamis, 19 Februari 2026, bahwa ia akan menentukan keputusan dalam 10 hingga 15 hari. Keputusan itu bergantung pada tercapai atau tidaknya kesepakatan mengenai program nuklir Iran.
Iran, di sisi lain, telah menyampaikan peringatan keras bahwa setiap serangan akan dibalas tanpa kompromi. Ancaman balasan ini memperbesar risiko eskalasi ketegangan Timur Tengah.
Diplomasi di tengah ancaman konflik terbatas
Meski tekanan militer meningkat, Trump berulang kali menegaskan preferensinya pada jalur diplomasi. Ia menginginkan kesepakatan komprehensif yang membatasi nuklir, rudal balistik, serta dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata regional.
Iran menolak tuntutan tersebut dan menyebutnya sebagai intervensi terhadap kedaulatan nasional. Penolakan ini membuat konflik AS Iran semakin sulit diredam.
Amerika Serikat dan Iran telah menjalani dua putaran pembicaraan tidak langsung di Oman dan Swiss. Hingga kini, tidak ada titik temu yang tercapai, meski perundingan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 26 Februari 2026.
Utusan Trump, Steve Witkoff, menyampaikan bahwa presiden terkejut karena Iran belum menunjukkan tanda menyerah. Pernyataan itu muncul meskipun kekuatan militer AS di kawasan telah ditingkatkan secara signifikan.
Analis Timur Tengah menilai pemerintahan Trump cenderung mengincar konflik terbatas. Pendekatan ini dianggap bertujuan mengubah keseimbangan kekuatan tanpa menjerat AS dalam perang panjang.
Iran disebut memperkirakan serangan singkat dengan dampak tinggi yang melumpuhkan infrastruktur rudalnya. Serangan seperti ini diyakini dapat mengurangi daya pencegah Iran dan mengatur ulang dinamika kawasan pasca konflik dengan Israel pada Juni 2025.
Klaim penghancuran nuklir dan tekanan domestik Iran
Trump tetap bersikeras bahwa pasukan AS telah menghancurkan program nuklir Iran. Klaim tersebut dikaitkan dengan serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium.
Situasi dalam negeri Iran juga mengalami perubahan setelah gelombang protes besar pada Januari. Aparat keamanan menindak protes tersebut dengan korban jiwa yang signifikan.
Trump beberapa kali mengancam akan turun tangan untuk membantu rakyat Iran. Namun, ancaman itu tidak pernah diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam berbagai kesempatan, Trump menonjolkan perannya dalam upaya perdamaian Timur Tengah. Ia kerap menyinggung gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Gaza, meski kesepakatan itu sering dilanggar.
Trump juga berpendapat bahwa perubahan rezim di Iran akan memperkuat peluang perdamaian regional. Pandangan ini menuai kritik keras dari oposisi Demokrat.
Kalangan Demokrat khawatir kebijakan luar negeri Trump justru menyeret Amerika Serikat ke dalam kekacauan berskala besar. Mereka menuntut konsultasi dengan Kongres sebelum keputusan militer diambil.
Risiko balasan dan dampak kawasan
Militer AS saat ini menempatkan 13 kapal perang di Timur Tengah. Kekuatan tersebut mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln, sembilan kapal perusak, serta tiga fregat.
Penguatan berlanjut dengan pergerakan USS Gerald R Ford melalui Selat Gibraltar menuju Laut Mediterania. Kapal induk terbesar di dunia itu menambah tekanan dalam konflik AS Iran.
Selain armada laut, puluhan jet tempur dikerahkan ke kawasan. Puluhan ribu personel militer AS tersebar di berbagai pangkalan, yang berpotensi menjadi sasaran balasan Iran.
Sejumlah monarki Arab di Teluk memperingatkan Trump agar tidak melakukan intervensi. Negara-negara tersebut khawatir akan menjadi target serangan balasan dan mengalami destabilisasi kawasan.
Pengamat kebijakan luar negeri menilai dampak konflik terhadap pemerintahan Iran sulit diprediksi. Konflik bisa memperkuat rezim, namun juga berpotensi melemahkannya secara drastis.
Ketidakpastian juga menyelimuti kemungkinan pasca runtuhnya kepemimpinan Iran. Tidak ada jaminan bahwa perubahan akan menghasilkan stabilitas baru.
Iran dinilai memiliki struktur kekuasaan yang tersebar. Kondisi ini membuat serangan kilat berisiko menciptakan kekacauan internal yang luas.
Dengan berbagai opsi militer terbuka dan diplomasi masih menemui jalan buntu, tujuan Trump menyerang Iran terus menjadi sorotan dunia. Risiko besar membayangi ketegangan Timur Tengah serta posisi Amerika Serikat di panggung global.