Beritagosip.com Bantuan politik dan moral mengalir ke Iran di tengah meningkatnya eskalasi militer kawasan. Paramiliter Irak, Kataeb Hezbollah, menyatakan kesiapan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat. Sikap ini muncul sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Kataeb Hezbollah dikenal sebagai salah satu faksi terbesar dalam Pasukan Mobilisasi Populer. Kelompok ini dibentuk pada 2014 untuk menghentikan laju cepat ISIL atau ISIS. Perannya terus berkembang seiring dinamika konflik regional.
Dua anggota kelompok tersebut dilaporkan tewas akibat serangan udara di pangkalan Jurf Al Sakher. Lokasi ini juga dikenal dengan nama Jurf Al Nasr di wilayah selatan Irak. Informasi itu disampaikan oleh Al Jazeera pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Pada Kamis, 26 Februari 2026, Kataeb Hezbollah mengeluarkan perintah siaga penuh. Seluruh personel diminta bersiap menghadapi eskalasi militer yang dinilai semakin berbahaya. Pernyataan resmi mereka menyoroti ancaman Amerika dan peningkatan kehadiran militer asing.
Kelompok itu juga mengirimkan peringatan langsung kepada Washington. Mereka menyebut potensi kerugian besar akan terjadi apabila konflik terbuka benar-benar pecah. Sikap ini menandakan perubahan pendekatan strategis.
Seorang komandan Kataeb Hezbollah menyampaikan kepada AFP bahwa keterlibatan mereka sangat mungkin terjadi. Hal itu berlaku jika Iran menjadi target serangan langsung. Iran dipandang sebagai elemen strategis bagi kepentingan kelompok tersebut.
Menurut komandan itu, serangan terhadap Iran dianggap sebagai ancaman langsung terhadap mereka. Pandangan ini memperkuat posisi Iran dalam perhitungan militer faksi bersenjata Irak.
Sikap terbaru ini berbeda dari konflik sebelumnya. Pada perang dua belas hari antara Israel dan Iran tahun lalu, kelompok bersenjata Irak tidak terlibat langsung. Saat ini, pendekatan tersebut disebut dapat berubah.
Komandan Kataeb Hezbollah menyatakan kelompoknya tidak akan terlalu menahan diri. Pernyataan itu terutama berlaku jika serangan Amerika bertujuan menggulingkan pemerintahan Teheran.
Dalam beberapa bulan perang Israel-Hamas di Gaza, kelompok pendukung Iran menyerang pasukan Amerika di kawasan. Upaya serangan terhadap Israel juga dilakukan, meskipun banyak yang tidak mencapai sasaran.
Tekanan dari Amerika Serikat dan tekanan domestik kemudian menghentikan rangkaian serangan tersebut. Desakan agar kelompok bersenjata melucuti senjata juga semakin kuat di Irak.
Kelompok pendukung Iran diketahui tergabung dalam poros perlawanan. Aliansi ini mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, serta kelompok Houthi di Yaman.