Beritagosip.com Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, meminta seluruh warga Amerika segera meninggalkan Iran. Seruan ini disampaikan setelah Washington menetapkan Iran sebagai negara pendukung penahanan semena-mena.
Penetapan tersebut diumumkan pada Jumat, 27 Februari. Rubio menegaskan rezim Iran harus segera membebaskan seluruh warga Amerika yang ditahan secara tidak adil.
Ia menyatakan status tersebut dapat dicabut jika Iran menghentikan praktik penyanderaan. Menurut Rubio, tindakan lanjutan juga akan dihentikan bila syarat itu dipenuhi.
Rubio mengaitkan kebijakan tersebut dengan sejarah panjang ketegangan bilateral. Ia menyinggung pengambilalihan kekuasaan oleh Ayatollah Khomeini puluhan tahun lalu.
Menurutnya, sejak saat itu Iran menggunakan penahanan warga asing sebagai alat tawar politik. Praktik tersebut dinilai kejam dan harus segera diakhiri.
Rubio juga menegaskan larangan perjalanan bagi warga Amerika. Ia menyatakan tidak ada alasan apa pun yang membenarkan kunjungan ke Iran.
Pemerintah Amerika kembali menyerukan agar warga AS yang masih berada di Iran segera keluar. Seruan itu dikaitkan dengan meningkatnya risiko keselamatan.
Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS mengizinkan personel non-darurat meninggalkan Israel. Keputusan itu diambil karena ancaman keamanan yang dinilai meningkat.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran masih terlibat dalam perundingan nuklir. Putaran ketiga pembicaraan digelar pada Kamis, 26 Februari, tanpa terobosan berarti.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut adanya kemajuan yang dinilai baik. Kedua pihak sepakat melanjutkan pembahasan teknis.
Pembicaraan teknis tersebut dijadwalkan berlangsung di Wina pada pekan depan. Pertemuan itu disebut sebagai lanjutan paling serius sejauh ini.
Tim Iran telah menyerahkan proposal tertulis kepada mediator Badr bin Hamad Al Busaidi. Proposal itu kemudian diteruskan kepada delegasi Amerika.
Delegasi AS dipimpin utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Hingga kini, rincian hasil pembicaraan belum diumumkan ke publik.