Beritagosip.com – Pengganti Khamenei memastikan Iran tidak akan kembali menjalankan negosiasi nuklir Iran dengan Amerika Serikat setelah serangan Israel dan AS mengguncang negara itu. Serangan Israel dan AS tersebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi Iran pada akhir pekan lalu.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menegaskan sikap tegas tersebut. Ia menyatakan Pengganti Khamenei tidak membuka ruang untuk negosiasi nuklir Iran dengan Washington setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei. Pernyataan itu merespons laporan media yang menyebut Teheran menghubungi Amerika melalui perantara guna melanjutkan dialog.
Sebelumnya, Iran dan Donald Trump memasuki putaran ketiga pembicaraan terkait negosiasi nuklir Iran. Namun belum tercapai kesepakatan ketika serangan Israel dan AS kembali terjadi seperti tahun sebelumnya.
Larijani menilai langkah Presiden AS memicu kekacauan kawasan. Ia menyebut slogan “America First” berubah arah dan hanya menguntungkan Israel. Menurutnya, kebijakan tersebut justru mempertaruhkan keselamatan tentara Amerika di Timur Tengah demi kepentingan Israel.
Serangan Israel dan AS dimulai pada Sabtu (28/2). Operasi militer itu menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat, termasuk Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh. Ratusan warga sipil turut menjadi korban ketika serangan mengenai sekolah dan kawasan pemukiman.
Tidak lama setelah itu, Iran meluncurkan serangan balasan. Target utama berada di pangkalan militer AS di berbagai titik Timur Tengah. Ledakan dan asap dilaporkan muncul di sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Irak.
Seiring kematian Ayatollah Ali Khamenei dan elite lain, Pengganti Khamenei menjadi sorotan utama. Nama Ali Larijani muncul dominan dalam pusat kekuasaan Teheran. Ia bergerak di balik layar dan memegang kendali atas keputusan politik, militer, serta diplomatik yang paling sensitif.
Dalam fase krusial ini, banyak pihak memandang Ali Larijani sebagai Pengganti Khamenei sementara. Ia dinilai mengisi kekosongan kepemimpinan di tengah periode paling berbahaya bagi Republik Islam dalam beberapa dekade terakhir.
Sejumlah laporan menyebut Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei diperkirakan membimbing pemerintahan untuk sementara. Namun posisi Pezeshkian disebut melemah dalam setahun terakhir.
Ali Larijani kini dipandang sebagai figur sentral. Ketidakpastian arah politik membuka kemungkinan adanya pengambil keputusan dari balik layar. Media Rudaw di Irak mencatat bahwa konstitusi Iran tidak secara eksplisit mengatur skenario pembunuhan pemimpin tertinggi.
Konstitusi hanya mengatur mekanisme pemilihan jika terjadi kematian, pengunduran diri, pemberhentian, atau ketidakmampuan menjalankan tugas. Berdasarkan Pasal 107 Konstitusi Republik Islam Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli dan membutuhkan dukungan dua pertiga suara.
Terlepas dari mekanisme formal tersebut, berbagai laporan mengindikasikan Ali Larijani memegang kendali strategis. Laporan The New York Times menyebut spekulasi mengenai peran sentralnya dalam setiap perubahan rezim di Iran semakin menguat.
Dalam analisis tersebut, disebutkan bahwa Ayatollah Ali Khamenei telah menyiapkan strategi keberlanjutan Republik Islam sebelum kematiannya. Ali Larijani, yang kini dikenal sebagai Pengganti Khamenei, disebut menerima mandat untuk menjalankan tanggung jawab itu dan berpotensi mengambil alih kendali negara.