Beritagosip.com Kapal Indonesia di Selat Hormuz dilaporkan masih berada dalam kondisi aman meskipun konflik Timur Tengah terus meningkat sejak akhir Februari. Jalur strategis tersebut menjadi sorotan setelah ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu risiko terhadap pelayaran internasional.
Konflik Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap Israel serta aset militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
Situasi tersebut mendorong Iran menutup Selat Hormuz, yang dikenal sebagai Selat Hormuz jalur minyak dunia. Penutupan ini berdampak pada berbagai kapal yang melintas, termasuk kapal Indonesia di Selat Hormuz serta kapal dari Thailand.
Meski berada di kawasan yang sama, kedua pihak mengalami situasi yang berbeda. Berikut perkembangan yang terjadi terhadap kapal-kapal tersebut di Selat Hormuz.
Kapal Pertamina
Dua kapal yang dioperasikan Pertamina International Shipping sempat tertahan di kawasan Timur Tengah pada pekan lalu. Informasi ini disampaikan oleh Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita.
Vega menjelaskan bahwa kapal Pertamina di Timur Tengah tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro. Kedua kapal Indonesia di Selat Hormuz itu memiliki fungsi pelayaran yang berbeda.
Gamsunoro diketahui mengangkut kargo milik konsumen pihak ketiga. Sementara itu, Pertamina Pride membawa pasokan minyak mentah yang dibutuhkan untuk kebutuhan energi dalam negeri.
Saat ini kedua kapal tersebut masih berada di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, kapal Indonesia di Selat Hormuz tetap dilaporkan berada dalam kondisi aman.
Pertamina menegaskan bahwa rantai pasok energi nasional masih berjalan normal. Hal ini tetap dipertahankan meskipun kapal-kapal tersebut masih menunggu waktu untuk keluar dari kawasan.
Direktur Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia melakukan koordinasi dengan Iran terkait situasi ini.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan mengenai kapal Pertamina di Timur Tengah sedang ditindaklanjuti oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran.
“Khusus terkait dengan yang terjadi saat ini dengan pihak Pertamina, dapat disampaikan bahwa hal tersebut sedang di-follow-up oleh teman-teman kita di KBRI Teheran,” kata Santo dalam konferensi pers pada 5 Maret.
Ia menambahkan bahwa komunikasi terkait situasi tersebut perlu dilakukan langsung dengan pemerintah Iran.
Selain dua kapal yang masih berada di kawasan konflik Timur Tengah, Pertamina juga melaporkan kapal lain telah berhasil keluar dari area tersebut.
Dua kapal itu adalah PIS Rinjani dan PIS Paragon. Kedua kapal tersebut tidak sedang melewati Selat Hormuz jalur minyak dunia ketika ketegangan meningkat.
“Dari empat kapal PIS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah, dua kapal sudah beranjak dari area konflik yaitu PIS Rinjani dan PIS Paragon,” ujar Vega dalam rilis resmi pada Selasa, 10 Maret.
Kargo Thailand
Di sisi lain, serangan kapal kargo Thailand terjadi di Selat Hormuz pada Rabu, 11 Maret. Kapal bernama Mayuree Naree dilaporkan mengalami kebakaran setelah serangan tersebut.
Akibat insiden itu, tiga kru kapal dinyatakan hilang. Sebanyak 20 orang lainnya berhasil diselamatkan dari kapal yang terbakar.
Angkatan Laut Thailand melalui Laksamana Muda Parach Rattanachaipan menjelaskan bahwa kapal tersebut diserang pada Rabu pagi. Serangan terjadi tidak lama setelah kapal meninggalkan Pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab.
Ia menyatakan bahwa kebakaran besar muncul di bagian buritan kapal saat melintasi Selat Hormuz jalur minyak dunia.
“Serangan terjadi saat kapal melintasi Selat Hormuz dan terjadi kebakaran hebat di buritan kapal,” ujar Rattanachaipan seperti dikutip Reuters.
Pada hari yang sama, media pemerintah Iran Fars melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran mengeluarkan pernyataan terkait operasi di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut menyebut bahwa pasukan Iran menyerang dua kapal yang melintas di wilayah tersebut. Salah satu kapal yang disebut adalah Mayuree Naree berbendera Thailand.
Laporan Reuters yang dikutip oleh The Nation menggambarkan peristiwa tersebut sebagai keterlibatan langsung pertama Iran terhadap kapal dagang selama konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung.