Beritagosip.com Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan Mojtaba Khamenei terluka dan mengalami cacat wajah setelah diangkat sebagai pemimpin baru Iran. Pernyataan itu memicu pertanyaan mengenai kemampuan pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei dalam memimpin negara tersebut.
Hegseth menyebut kondisi Mojtaba Khamenei terluka menjadi alasan munculnya keraguan atas kapasitas kepemimpinannya. Ia menyampaikan pandangan tersebut setelah pesan perdana Mojtaba disampaikan kepada publik.
Pernyataan Mojtaba Khamenei pertama kali muncul melalui televisi pemerintah Iran pada Kamis (12/3). Isi pesan tersebut dibacakan oleh seorang presenter, bukan disampaikan langsung oleh Mojtaba.
Pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk pada Senin (9/3). Penunjukan itu dilakukan setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam pesan tersebut, Mojtaba menegaskan Iran akan terus menjaga Selat Hormuz ditutup. Ia juga meminta negara-negara tetangga menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka.
Menurut Mojtaba, negara yang mengabaikan seruan tersebut berisiko menjadi target Iran. Sikap ini mempertegas posisi Iran di tengah ketegangan regional.
Hegseth kemudian kembali menyinggung kondisi kesehatan Mojtaba. Ia mengatakan laporan menunjukkan Mojtaba Khamenei terluka dan kemungkinan mengalami cacat wajah Mojtaba Khamenei.
“Kita tahu bahwa pemimpin yang disebut-sebut itu sedang terluka dan kemungkinan mengalami cacat wajah,” kata Hegseth, seperti dikutip Reuters.
Ia juga menilai pernyataan Mojtaba Khamenei yang disampaikan melalui televisi terlihat lemah. Menurutnya, pesan tersebut tidak disertai rekaman suara atau video.
“Dia mengeluarkan pernyataan kemarin. Pernyataan yang lemah, sebenarnya, tetapi tidak ada suara dan tidak ada video. Itu adalah pernyataan tertulis,” ujar Hegseth.
Hegseth juga mempertanyakan legitimasi kepemimpinan Mojtaba. Ia menilai tidak ada alasan kuat mengapa pesan tersebut hanya berupa teks.
“Iran memiliki banyak kamera dan banyak perekam suara. Mengapa pernyataan tertulis? Saya pikir Anda tahu alasannya. Ayahnya meninggal. Dia takut, dia terluka, dia buron, dan tidak memiliki legitimasi,” kata Hegseth.
Sementara itu, seorang pejabat Iran memberikan keterangan berbeda. Ia mengatakan pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei hanya mengalami luka ringan.
Menurut pejabat tersebut, Mojtaba tetap menjalankan tugasnya. Ia menyebut pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei masih terus beroperasi seperti biasa.
Dalam pesan perdananya pada Kamis (12/3), Mojtaba kembali menegaskan kebijakan Iran terhadap Selat Hormuz. Ia mengatakan Selat Hormuz ditutup Iran selama konflik masih berlangsung.
Selain itu, Mojtaba juga menyampaikan sikap terhadap kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan. Ia menegaskan Iran akan terus menyerang pangkalan AS di Timur Tengah.
Meski demikian, Mojtaba menyatakan Iran tetap ingin menjaga hubungan baik dengan negara-negara Arab. Pernyataan Mojtaba Khamenei tersebut menunjukkan kombinasi sikap tegas dan diplomatik.
“Selat Hormuz akan terus ditutup untuk menekan musuh-musuh Iran,” kata Mojtaba.
Penunjukan Mojtaba dilakukan oleh Majelis Ahli Iran. Lembaga tersebut terdiri dari 88 ulama senior yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran.
Sepanjang sejarah modern Iran, lembaga ini jarang mengawasi pergantian kepemimpinan. Proses serupa sebelumnya hanya terjadi pada 1989.
Saat itu, Ayatollah Ali Khamenei dipilih menggantikan Ruhollah Khomeini yang wafat. Peristiwa tersebut menjadi satu-satunya transisi kepemimpinan yang diawasi langsung oleh Majelis Ahli sebelum penunjukan Mojtaba.
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad. Kota tersebut dikenal sebagai salah satu pusat keagamaan penting di Iran timur.
Ia merupakan salah satu dari enam anak Ayatollah Ali Khamenei. Kini, pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei menjadi tokoh utama dalam dinamika politik dan keamanan kawasan.