Beritagosip.com Warga Sukoharjo tolak warung mi babi di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Peristiwa ini menjadi viral setelah akses jalan menuju warung mi babi Sukoharjo sempat ditutup dengan tumpukan tanah.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan akses menuju warung non halal tersebut tertutup gundukan tanah. Gundukan itu berada tepat di bawah spanduk berisi penolakan warung non halal oleh warga sekitar. Tulisan pada spanduk tersebut menegaskan sikap warga Sukoharjo tolak warung yang dianggap tidak sesuai dengan lingkungan setempat.
Saat ini, akses jalan ditutup Sukoharjo tersebut sudah kembali diratakan sehingga kendaraan dapat melintas. Namun, spanduk penolakan masih terpasang di lokasi. Spanduk MMT di ujung gang bertuliskan penolakan warga terhadap warung non halal, lengkap dengan gambar kepala babi yang disilang merah.
Pengelola warung mi babi Sukoharjo, Jodi Sutanto, menjelaskan bahwa penutupan akses terjadi pada Kamis sekitar pukul 09.00 WIB. Saat kejadian, warung masih belum beroperasi karena baru buka siang hari. Ia menyebut pihaknya mengetahui kejadian tersebut setelah melihat truk yang telah selesai menurunkan tanah di lokasi.
Menurutnya, akses jalan tersebut merupakan jalan umum dan satu-satunya jalur menuju warung. Ia mengaku tidak mengetahui pihak yang melakukan penutupan akses jalan ditutup Sukoharjo tersebut. Kondisi ini kemudian memicu polemik warung Sukoharjo antara warga dan pemilik usaha.
Di sisi lain, Kepala Desa Parangjoro, Hardiman, memberikan klarifikasi terkait kejadian tersebut. Ia membantah bahwa penumpukan tanah dilakukan untuk menutup akses warung mi babi Sukoharjo. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rencana lama warga untuk meninggikan jalan yang dinilai terlalu rendah.
Menurutnya, proses pengurukan dilakukan sebagai bagian dari perbaikan jalan dan bukan bentuk penolakan langsung. Ia juga menyebut bahwa tanah tersebut belum diratakan saat ditinggalkan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman dengan pemilik warung.
Peristiwa ini menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara warga dan pengelola usaha. Polemik warung Sukoharjo ini berkembang setelah video penolakan warga Sukoharjo tolak warung tersebar luas di media sosial.