Beritagosip.com Ketegangan antara Israel dan Lebanon kembali meningkat, terutama di wilayah Lebanon selatan. Operasi militer yang dilakukan Israel tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh faktor keamanan, sejarah konflik, hingga kepentingan geopolitik yang kompleks.
Salah satu alasan utama adalah keberadaan Hezbollah, kelompok milisi yang berbasis di Lebanon dan menjadi musuh utama Israel. Sejak menggantikan peran Palestine Liberation Organization di wilayah tersebut, Hizbullah aktif melakukan perlawanan bersenjata terhadap Israel.
1. Ancaman keamanan langsung
Israel memandang Lebanon selatan sebagai basis serangan Hizbullah. Roket dan operasi lintas batas membuat wilayah ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi keamanan nasional Israel. Karena itu, kontrol atau kehadiran militer di area perbatasan dianggap sebagai langkah defensif.
2. Pengalaman pendudukan sebelumnya
Israel pernah menduduki Lebanon selatan pada 1982 hingga 2000. Pengalaman ini membentuk pendekatan strategis Israel yang melihat wilayah tersebut sebagai buffer zone untuk mencegah serangan langsung ke wilayahnya.
3. Sengketa wilayah perbatasan
Beberapa area di sepanjang Garis Biru masih menjadi titik konflik, termasuk wilayah seperti Har Dov dan desa Ghajar. Ketidakjelasan batas ini memicu ketegangan berkelanjutan.
4. Kepentingan geopolitik regional
Konflik ini juga terkait dengan pengaruh Iran di kawasan. Hizbullah didukung Iran, sehingga melemahkan kelompok tersebut berarti mengurangi pengaruh Iran di Timur Tengah.
5. Ideologi dan narasi “Israel Raya”
Pernyataan sejumlah tokoh politik seperti Bezalel Smotrich sering dikaitkan dengan gagasan ekspansi wilayah. Namun, secara praktis, kebijakan militer Israel lebih didorong oleh pertimbangan keamanan dibanding realisasi ideologi tersebut.
6. Kondisi internal Lebanon
Lemahnya kontrol negara Lebanon di wilayah selatan membuat Israel meragukan kemampuan pemerintah setempat dalam menahan aktivitas milisi. Hal ini menjadi alasan tambahan bagi keberadaan militer Israel di perbatasan.
Setelah konflik yang meningkat sejak Oktober 2023, gencatan senjata sempat dicapai pada 2024 melalui mediasi internasional. Namun, demiliterisasi yang belum tuntas dan potensi kebangkitan Hizbullah membuat situasi tetap rapuh.
Secara keseluruhan, dorongan Israel untuk menguasai atau setidaknya mengendalikan Lebanon selatan bukan hanya soal ekspansi wilayah. Faktor utama tetap berkisar pada keamanan, pengaruh regional, serta konflik berkepanjangan dengan aktor non-negara yang beroperasi di wilayah tersebut.