Beritagosip.com — Dua mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, berencana membentuk koalisi politik baru menjelang pemilu Israel yang akan digelar akhir tahun 2026. Langkah ini dinilai sebagai upaya serius untuk menantang dominasi Benjamin Netanyahu.
Dalam skema koalisi Bennett Lapid 2026, kedua tokoh tersebut akan menggabungkan kekuatan politik masing-masing. Bennett dikenal sebagai figur kanan, sementara Lapid memimpin Partai Yesh Atid yang berhaluan tengah.
Pengumuman koalisi dilakukan dalam konferensi pers bersama pada Minggu, 26 April 2026. Lapid menyampaikan bahwa kolaborasi ini dibentuk demi masa depan Israel yang lebih baik. Ia menegaskan perlunya perubahan arah kebijakan negara.
Bennett menyatakan bahwa partai gabungan ini akan bernama Together dan dipimpin olehnya. Ia juga menilai bahwa sudah saatnya Israel membuka babak baru tanpa kepemimpinan Netanyahu setelah puluhan tahun mendominasi politik nasional.
Menanggapi langkah tersebut, Netanyahu menunjukkan sikap santai. Ia mengunggah foto Bennett dan Lapid bersama Mansour Abbas, ketua partai Arab Ra’am atau United Arab List. Ketiganya diketahui pernah bekerja sama dalam koalisi pemerintahan pada 2021.
Netanyahu bahkan memprediksi pola kerja sama serupa akan kembali terjadi. Pernyataan itu ia sampaikan melalui kanal Telegram pribadinya.
Koalisi Bennett dan Lapid bukanlah hal baru. Pada 2021, keduanya sempat membentuk pemerintahan bersama dengan dukungan United Arab List. Namun, pemerintahan tersebut hanya bertahan kurang dari 18 bulan akibat perbedaan pandangan, terutama terkait isu Palestina.
Dalam dinamika politik Israel terkini, Netanyahu tetap menjadi sosok dominan sejak era 1990-an. Ia dikenal sebagai figur kuat sekaligus kontroversial, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional.
Pada pemilu 2022, Netanyahu berhasil membentuk pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel. Koalisi tersebut masih bertahan meski menghadapi berbagai tekanan politik dan isu keamanan.
Namun, posisi Netanyahu mulai melemah setelah serangan Hamas pada Oktober 2023 yang memicu konflik besar di wilayah Palestina. Situasi ini turut memengaruhi persepsi publik terhadap kepemimpinannya.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan perubahan peta kekuatan politik. Jajak pendapat dari Times of Israel pada 19 Maret mencatat Partai Likud diprediksi meraih 28 dari 120 kursi Knesset, turun dari 34 kursi saat ini.
Meskipun tetap menjadi partai terbesar, koalisi Netanyahu diperkirakan hanya mengamankan sekitar 51 kursi, sehingga belum mencapai mayoritas parlemen.
Sementara itu, survei N12 News Israel menunjukkan penurunan signifikan pada perolehan kursi partai Yesh Atid yang dipimpin Lapid. Partai tersebut diproyeksikan hanya meraih tujuh kursi, turun dari 24 kursi saat ini.
Di sisi lain, koalisi Bennett dan Lapid yang berpotensi menggandeng beberapa faksi kecil diperkirakan mampu meraih hingga 60 kursi. Angka tersebut mendekati ambang mayoritas, sehingga membuka peluang besar dalam pemilu Israel terbaru.
Perkembangan ini menjadikan politik Israel terkini semakin dinamis. Koalisi Bennett Lapid 2026 berpotensi menjadi faktor penentu dalam upaya menggeser dominasi Netanyahu di pemerintahan.