Beritagosip.com — Industri otomotif China mobil listrik semakin menunjukkan dominasinya di pasar global. Hal ini diakui langsung oleh CEO Honda, Toshihiro Mibe, setelah melakukan kunjungan ke pabrik pemasok otomotif di Shanghai pada Februari 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Mibe berupaya memahami bagaimana produsen China mampu menghasilkan kendaraan dalam waktu singkat dengan efisiensi tinggi. Namun, hasil pengamatannya justru menimbulkan kekhawatiran besar terhadap daya saing Honda.
Ia menyatakan bahwa Honda sulit bersaing China, terutama dalam sektor kendaraan listrik yang berkembang sangat cepat. Pernyataan tegas tersebut disampaikan setelah melihat langsung skala dan kecepatan produksi di lapangan.
Tekanan terhadap Honda tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari kondisi internal perusahaan. Dalam beberapa waktu terakhir, Honda membatalkan sejumlah proyek penting, termasuk pengembangan mobil listrik 0 SUV dan 0 Sedan, serta kebangkitan Acura RSX.
Selain itu, kerja sama pengembangan mobil listrik Afeela bersama Sony juga dihentikan sebelum sempat diluncurkan. Perusahaan bahkan diperkirakan mencatat kerugian hingga 15,8 miliar dolar AS.
Langkah penyesuaian juga dilakukan di pasar internasional. Honda mengumumkan rencana penghentian penjualan mobil baru di Korea Selatan pada akhir 2026 sebagai bagian dari strategi efisiensi.
Di sisi lain, tekanan dari industri otomotif China mobil listrik semakin terasa melalui penurunan penjualan Honda di pasar China. Penjualan turun drastis dari 1,62 juta unit pada 2020 menjadi sekitar 640 ribu unit pada 2025. Produksi pada 2026 bahkan diproyeksikan berada di bawah 600 ribu unit per tahun.
Keunggulan utama produsen China terletak pada kecepatan pengembangan produk. Mereka mampu merancang dan memproduksi model baru dalam waktu dua tahun atau kurang. Sebaliknya, produsen tradisional membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk proses yang sama.
Efisiensi juga menjadi faktor pembeda. Pemasok komponen di China mampu mengikuti ritme cepat tersebut dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah dibandingkan pesaing global.
Meski menghadapi tekanan besar, Honda tidak sepenuhnya menyerah. Sepulang dari China, Mibe menegaskan bahwa perusahaan harus bergerak lebih cepat dalam pengembangan teknologi.
Sebagai langkah konkret, Honda memperkuat divisi riset dan pengembangan dengan membentuk entitas teknik baru dan memindahkan ribuan insinyur ke dalamnya. Strategi ini ditujukan untuk mempercepat inovasi dan mengejar ketertinggalan.
Kekhawatiran terhadap dominasi China juga dirasakan oleh produsen global lain. CEO Ford, Jim Farley, sebelumnya menyatakan bahwa kapasitas produksi China berpotensi menguasai pasar Amerika Utara secara penuh.
Pernyataan serupa datang dari mantan CEO Toyota, Koji Sato, yang menekankan pentingnya perubahan besar dalam industri. Ia mengingatkan bahwa tanpa adaptasi, keberlangsungan perusahaan otomotif global bisa terancam.
Dengan tekanan yang terus meningkat, perkembangan EV China kini menjadi faktor utama yang membentuk ulang peta persaingan pasar otomotif global 2026.