Beritagosip.com – Indonesia dan Filipina menandatangani kerja sama strategis untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis global, khususnya nikel, melalui pembentukan koridor industri terintegrasi antara kedua negara.
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau MoU Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia dan Philippine Nickel Industry Association.
Penandatanganan itu disaksikan Airlangga Hartarto bersama Maria Cristina A. Roque di Cebu, Kamis (7/5).
“Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini menjadi fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Jumat (8/5).
Penandatanganan kerja sama berlangsung dalam forum Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di sela rangkaian KTT ASEAN ke-48 dan KTT Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN ke-27 di Cebu, Filipina.
RI-Filipina sepakat bangun koridor nikel karena kedua negara memegang posisi strategis dalam industri nikel global. Berdasarkan data terbaru, Indonesia dan Filipina menguasai sekitar 73,6 persen produksi nikel dunia pada 2025. Indonesia berkontribusi sebesar 66,7 persen, sedangkan Filipina mencapai sekitar 6,9 persen.
Dari sisi cadangan, Indonesia memiliki sekitar 44,5 persen cadangan nikel global atau setara 62 juta ton. Sementara itu, Filipina memiliki sekitar 3,4 persen atau setara 4,8 juta ton.
Airlangga menilai sinergi tersebut akan memperkuat posisi kedua negara dalam rantai pasok global sekaligus meningkatkan nilai tambah industri nikel di kawasan.
“Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tidak terpisahkan bagi dunia,” katanya.
Secara konkret, kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang strategis. Beberapa di antaranya meliputi pertukaran informasi untuk stabilisasi perdagangan nikel, pengembangan teknologi hilirisasi dan pemanfaatan produk sampingan, hingga pengembangan sumber daya manusia guna mendukung industri berkelanjutan.
Indonesia saat ini juga terus mendorong hilirisasi nikel secara masif. Nilai ekspor produk olahan nikel tercatat mencapai US$9,73 miliar atau sekitar Rp169,10 triliun pada 2025.
Selain itu, proyeksi investasi diperkirakan mencapai US$47,36 miliar atau sekitar Rp823,12 triliun. Industri ini juga berpotensi menyerap sekitar 180.600 tenaga kerja hingga 2030.
Melalui kerja sama tersebut, Filipina diharapkan tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah, tetapi juga masuk ke rantai nilai industri yang lebih tinggi.
“Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat,” ujar Airlangga.
Ia menambahkan nikel kini menjadi komoditas penting dalam transisi energi, terutama untuk pengembangan baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi berbasis panel surya.
Untuk mendukung langkah tersebut, pemerintah Indonesia turut mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK sebagai pusat hilirisasi mineral kritis, termasuk pembangunan smelter dan industri baterai yang terintegrasi.