Beritagosip.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Beijing untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi bersama Presiden China Xi Jinping. Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama Trump ke China sejak 2017 sekaligus kunjungan presiden Amerika Serikat pertama ke Negeri Tirai Bambu dalam hampir satu dekade.
Dilansir AFP, Trump tiba di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing menggunakan Air Force One pada Rabu (13/5) waktu setempat. Sambil mengepalkan tangan, Trump turun dari tangga pesawat dan disambut karpet merah serta ratusan pemuda China yang melambaikan bendera kecil kedua negara.
Turut mendampingi Trump dalam lawatan tersebut yakni bos Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang. Kehadiran keduanya dianggap sebagai simbol kuat potensi kerja sama bisnis antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia tersebut.
Hubungan Amerika Serikat dan China sendiri telah mengalami berbagai fase penting selama puluhan tahun, mulai dari konflik ideologi, rekonsiliasi diplomatik, hingga rivalitas geopolitik modern.
Masa Pembendungan 1949-1971
Pada awal berdirinya Republik Rakyat China, Amerika Serikat menerapkan kebijakan pembendungan terhadap pemerintahan komunis Beijing.
Washington memandang China sebagai kekuatan agresif dan ekspansionis yang dapat mengancam negara-negara non-komunis di Asia. Karena itu, AS membangun jaringan aliansi militer di sekitar wilayah China.
Aliansi tersebut meliputi kerja sama dengan Jepang, Korea Selatan, serta pemerintahan Nasionalis ROC di Taiwan. Amerika Serikat bersama sekutunya juga membentuk Organisasi Pakta Asia Tenggara atau SEATO yang mencakup Thailand, Filipina, dan Vietnam Selatan.
Selain itu, terdapat pula Pakta ANZUS yang menghubungkan Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.
Amerika Serikat juga mempertahankan pangkalan militer dan menempatkan pasukan di sejumlah negara sekutu, terutama Jepang dan Korea Selatan.
Pada periode tersebut, AS turut terlibat dalam Perang Vietnam untuk mencegah penyebaran komunisme dari Vietnam Utara ke Vietnam Selatan.
Washington juga menjalankan “strategi baji” guna memecah hubungan China dan Uni Soviet. Strategi tersebut akhirnya berhasil setelah perpecahan Sino-Soviet mulai terlihat pada awal 1960-an.
Rekonsiliasi 1971-1979
Hubungan kedua negara mulai membaik pada awal 1970-an. Amerika Serikat ingin mengakhiri perang di Vietnam, sedangkan China membutuhkan dukungan menghadapi tekanan Uni Soviet.
Perubahan besar dimulai setelah kunjungan rahasia Penasihat Keamanan Nasional Henry Kissinger ke China pada 1971.
Setahun kemudian, Presiden Richard Nixon melakukan kunjungan bersejarah ke China dan bertemu Perdana Menteri Zhou Enlai. Pertemuan tersebut menghasilkan Komunike Shanghai.
Dalam komunike itu, Amerika Serikat mengakui prinsip “Satu China” dan menyatakan Taiwan merupakan bagian dari China.
Kunjungan Nixon menjadi titik balik hubungan diplomatik kedua negara setelah puluhan tahun bermusuhan.
Hubungan Diplomatik Penuh 1979-2016
Pada 1979, Amerika Serikat dan China resmi menjalin hubungan diplomatik penuh. Untuk mewujudkannya, AS memutus hubungan diplomatik formal dengan Taiwan meski tetap mempertahankan hubungan nonresmi.
Kongres AS kemudian mengesahkan Taiwan Relations Act yang mewajibkan Amerika membantu kemampuan pertahanan Taiwan jika mendapat ancaman dari China daratan.
Dari sisi Amerika Serikat, hubungan dengan China dianggap sebagai bagian dari kebijakan keterlibatan atau engagement. Washington percaya bahwa memasukkan China ke ekonomi global dapat mendorong reformasi ekonomi dan politik.
Sementara itu, China mulai menjalankan kebijakan reformasi dan keterbukaan yang membuka peluang besar bagi investasi serta perdagangan internasional.
Periode ini ditandai peningkatan pesat hubungan dagang, investasi, pendidikan, hingga pertukaran budaya antara China dan negara-negara Barat.
Masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001 juga menjadi titik penting yang memperbesar ekspor China ke Amerika Serikat.
Perang Dingin Baru 2016-2020
Ketegangan kembali meningkat ketika Xi Jinping memperkuat posisi China di panggung global sejak menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis China pada 2012.
China mulai bersikap lebih tegas terkait Taiwan, Laut China Selatan, Jepang, India, dan kawasan Asia Tenggara. Beijing juga memperluas pengaruh global melalui proyek Belt and Road Initiative atau Jalur Sutra Modern.
Di sisi lain, masa pemerintahan Donald Trump menandai perubahan besar kebijakan Amerika Serikat terhadap China.
Trump fokus pada defisit perdagangan dan memberlakukan tarif impor terhadap produk China. Langkah tersebut memicu perang dagang antara dua negara.
Amerika Serikat juga menuduh China berupaya memengaruhi opini publik dan budaya Amerika melalui media sosial, media massa, serta organisasi internasional.
Mantan peneliti Allison Center for National Security di Heritage Foundation, Dan Green, menyebut pemerintah China menggunakan akun media sosial anonim untuk menyebarkan pengaruh politik sekaligus memicu perpecahan di masyarakat Amerika.
Selain itu, China juga dinilai berusaha memperluas pengaruhnya di lembaga-lembaga internasional yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi global lainnya.
Persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China hingga kini masih terus berlangsung dan memengaruhi stabilitas politik, ekonomi, serta keamanan dunia.