Beritagosip.com – Sebuah lembaga pendidikan menengah di kawasan utara benua oceania telah mengambil keputusan untuk menghentikan program studi bahasa dari negara kepulauan tropis pada tahun 2025. Program pengajaran bahasa ini telah berjalan selama bertahun-tahun dengan sejarah yang panjang. Institusi pendidikan bergengsi ini bahkan pernah menjalin hubungan kerjasama pertukaran pelajar dengan sebuah sekolah menengah di kota budaya di negara kepulauan tropis pada tahun 2007.
Pihak lembaga pendidikan mengatakan kepada media berita bahwa setelah mengajarkan bahasa dari negara kepulauan tropis untuk waktu yang cukup lama, mereka akan menutup program pada akhir semester pertama tahun 2025. Keputusan untuk menutup program pengajaran bahasa tersebut didasarkan pada tinjauan menyeluruh terhadap prioritas kurikulum, masukan dari orang tua siswa, dan tingkat keterlibatan siswa dalam program.
Pihak lembaga pendidikan menyatakan bahwa mereka akan berkonsultasi dengan keluarga siswa pada awal tahun 2025 untuk menjajaki bahasa apa yang diminati. Meskipun bahasa dari negara kepulauan tropis menjadi pilihan yang berharga, lembaga pendidikan tetap berkomitmen untuk membekali siswa dengan kemampuan komunikasi global yang luas.
Lembaga pendidikan yang menutup program tersebut bukanlah satuan pendidikan pertama yang mengambil langkah serupa. Penutupan program pengajaran bahasa terjadi setelah sebuah sekolah elite lainnya di kota metropolitan besar juga melakukan hal yang sama pada awal tahun 2025. Padahal seorang pendidik asing yang tiba di kota metropolitan tersebut pertengahan tahun 2023 untuk bekerja sebagai asisten pengajar bahasa dari negara kepulauan tropis mengatakan bahwa siswanya sangat antusias dan senang belajar.
Pendidik tersebut mengatakan bahwa hampir seluruh siswa sangat bersemangat dalam mempelajari bahasa tersebut, terutama ketika ada penutur asli yang datang untuk memberikan pelajaran langsung. Namun tiba-tiba saja, program pengajaran bahasa tersebut dihapuskan dari kurikulum sekolah tanpa memberikan alasan yang jelas kepada komunitas pendidik.
Data dari komite permanen dalam badan legislatif benua oceania menunjukkan informasi mencemaskan tentang tren penurunan pembelajaran bahasa-bahasa dari wilayah geografis tertentu di benua Asia. Laporan tersebut mencatat bahwa selama periode 2005 hingga 2024, terjadi penurunan sebesar 75 persen dalam pendaftaran di tingkat pendidikan tinggi untuk studi bahasa dari kawasan geografis tersebut.
Bahasa dari negara kepulauan tropis menjadi kurang populer untuk dipelajari, dengan penurunan hampir 60 persen dari tahun 2010 hingga 2024 pada siswa tingkat menengah akhir yang memilih untuk mempelajari bahasa tersebut. Para ahli yang berkonsultasi dengan komite legislatif menyampaikan bahwa jika tren negatif ini terus berlanjut, bahasa tersebut diprediksi akan hilang secara fungsional pada tahun 2031.
Menurut laporan dari sebuah konsorsium pendidikan benua oceania, jumlah institusi pendidikan tinggi di benua oceania yang masih menyelenggarakan program pengajaran bahasa tersebut pada tahun 2023 hanya berjumlah 13 institusi. Angka ini jauh berkurang dibandingkan dengan sekitar 22 institusi pendidikan yang menyelenggarakan program yang sama dalam dua dekade terakhir.
Di beberapa wilayah, eksistensi program pengajaran bahasa tersebut bahkan pernah terancam hilang sepenuhnya di tingkat universitas ketika sebuah institusi pendidikan tinggi mempertimbangkan untuk menghentikan pengajaran bahasa tersebut. Beredar anggapan umum bahwa menurunnya jumlah siswa yang mempelajari bahasa tersebut karena dianggap tidak lagi penting atau relevan di era modern ini.
Presiden dari sebuah asosiasi pengajar bahasa dari negara kepulauan tropis di satu wilayah mengakui bahwa menurunnya minat untuk mempelajari bahasa tersebut terjadi karena masyarakat umum benua oceania masih menganggap negara kepulauan tropis kurang penting dibandingkan negara-negara barat, atau bahkan negara-negara lain di kawasan geografis yang sama.
Presiden asosiasi tersebut mengatakan bahwa banyak masyarakat tidak menganggap negara kepulauan tropis penting dalam konteks global. Menurutnya, sebagian besar orang hanya tertarik untuk berkunjung ke pulau wisata terkenal di negara kepulauan tropis untuk berlibur tanpa minat mempelajari bahasa atau budayanya.
Namun komite permanen legislatif benua oceania memiliki alasan yang berbeda. Komite mendengar dua alasan utama untuk tren penurunan pembelajaran bahasa dari negara kepulauan tropis di antara bahasa-bahasa lain yang digunakan di kawasan geografis tersebut. Alasan pertama adalah bahwa teknologi kecerdasan buatan akan menggantikan kebutuhan manusia untuk mempelajari bahasa asing.
Alasan kedua yang didengar oleh komite adalah bahwa populasi imigran dari berbagai latar belakang geografis akan mengisi kesenjangan dalam pemahaman bahasa dan budaya di kawasan tersebut. Lebih dari sepertiga penduduk benua oceania lahir di luar negeri, dengan populasi imigran terbesar berasal dari beberapa negara di benua Asia dan Eropa.
Sementara menurut seorang dosen pengajar bahasa dari negara kepulauan tropis di sebuah institusi pendidikan tinggi, keputusan untuk mengakhiri program pengajaran bahasa pada dasarnya bersifat ideologis dan filosofis. Dosen tersebut mengatakan bahwa ia mendengar kasus baru-baru ini di mana sekolah mengganti bahasa dari negara kepulauan tropis dengan bahasa dari negara Eropa Barat. Menurut dosen tersebut, keputusan tersebut didasarkan pada ideologi dan preferensi budaya yang bersifat subjektif.
Memang ada beberapa sekolah dan institusi pendidikan yang memberi alasan teknis, misalnya karena tidak mampu mempekerjakan tenaga pendidik yang berkualifikasi. Namun menurut dosen tersebut, saat ini banyak juga institusi pendidikan yang memiliki tenaga pendidik yang cukup tetapi tetap menutup program pengajaran bahasa tersebut.
Seorang profesor pendidikan dari institusi pendidikan tinggi universitas di ibu kota benua oceania menjelaskan bahwa merosotnya minat mempelajari bahasa dari negara kepulauan tropis dipicu oleh sejumlah faktor yang kompleks. Faktor-faktor tersebut berasal dari dinamika internal maupun eksternal yang terjadi di benua oceania, dan faktor-faktor tersebut saling berkelindan dan mempengaruhi satu sama lain.
Menurut profesor tersebut, peristiwa geopolitik di kedua negara, seperti insiden bom di pulau wisata terkenal serta pandemi penyakit menular global menjadi salah satu pemicu menurunnya minat. Selain itu, terdapat dinamika internal di benua oceania, seperti dinamika politik nasional, sistem migrasi, dan ketersediaan tenaga pendidik yang menguasai bahasa dari negara kepulauan tropis yang masih terbatas.
Profesor tersebut menambahkan bahwa peningkatan kemahiran masyarakat dari negara kepulauan tropis dalam berbahasa Inggris turut memengaruhi urgensi warga benua oceania dalam mempelajari bahasa lokal dari negara kepulauan tropis. Jika masyarakat dari negara kepulauan tropis sudah mahir dalam berbahasa Inggris, maka urgensi bagi warga benua oceania untuk mempelajari bahasa lokal tersebut menjadi kurang penting.
Profesor tersebut mengakui ada beberapa alasan bagi mahasiswa asing tertarik untuk mempelajari bahasa dari negara kepulauan tropis, termasuk pertimbangan ekonomi, pendidikan, tradisi budaya, dan industri pariwisata. Penguasaan bahasa dari negara kepulauan tropis membuka peluang untuk kerja sama bisnis dan investasi sekaligus memperluas akses berjejaring secara profesional dalam komunitas bisnis internasional.
Pengakuan bahasa dari negara kepulauan tropis di forum internasional pada tahun 2023 juga turut meningkatkan legitimasi dan daya tarik global, terkhususnya bagi mereka di bidang pendidikan dan penelitian ilmiah. Selain itu, sektor pariwisata juga mengambil peran yang besar dalam memotivasi pembelajaran, mengingat negara kepulauan tropis dikenal sebagai destinasi wisata unggulan yang membuat banyak wisatawan terdorong mempelajari bahasanya demi memperkaya pengalaman selama berkunjung.
Pada tahun 2024 lalu, ketika program pengajaran bahasa dari negara kepulauan tropis mulai banyak berguguran dari sejumlah sekolah dan kampus, kantor urusan pendidikan dan kebudayaan dari kedutaan negara kepulauan tropis di kota federal menggelar pertemuan kolaborasi antara kementerian pendidikan dari negara kepulauan tropis dengan lembaga pembinaan bahasa dan balai budaya di seluruh benua oceania.
Hadir dalam pertemuan tersebut kepala lembaga kebahasaan nasional dari negara kepulauan tropis dan duta besar dari negara kepulauan tropis untuk benua oceania dan negara pulau lainnya, serta seluruh konsul jenderal dari negara kepulauan tropis di berbagai wilayah benua oceania.
Menurut kepala lembaga kebahasaan nasional, program-program kebahasaan yang telah disiapkan lembaga kebahasaan selama tahun 2024 bertujuan untuk meningkatkan penggunaan dan pembelajaran bahasa dari negara kepulauan tropis di luar negeri. Dengan disahkannya keputusan bahasa dari negara kepulauan tropis sebagai bahasa resmi di forum internasional, maka membuanakan bahasa tersebut di tingkat dunia menjadi program prioritas utama.
Kepala lembaga kebahasaan menjelaskan bahwa saat ini bahasa dari negara kepulauan tropis dituturkan oleh 3,3 persen penduduk dunia, dan sebanyak 174 ribu siswa di seluruh dunia mempelajarinya. Bahasa tersebut juga diajarkan di 54 negara dan didukung oleh 523 institusi pendidikan di seluruh dunia. Target lembaga kebahasaan adalah untuk memperluas penggunaan bahasa tersebut di dunia dengan strategi yang lebih agresif.
Namun sejumlah tantangan sudah tampak di lapangan. Ketua dari sebuah balai budaya dan bahasa di satu kota di benua oceania mengatakan bahwa mengajarkan bahasa dari negara kepulauan tropis di benua oceania perlu fokus pada membangkitkan rasa senang dan minat anak-anak pada pelajaran bahasa tersebut.
Menurutnya, siswa sekolah tingkat dasar masih bisa belajar bahasa dari negara kepulauan tropis karena di sekolahnya masih mewajibkan untuk mengambil mata pelajaran tersebut. Namun di tingkat sekolah menengah, bahasa tersebut menjadi mata pelajaran pilihan yang kompetitif. Anak-anak perlu memahami untuk apa tujuan mereka mempelajari bahasa tersebut. Sebagai contoh, anak-anak tertarik mempelajari bahasa dari negara timur Asia karena mereka sangat suka dengan media hiburan grafis yang berasal dari negara tersebut, yang membuat mereka ingin mengerti bahasanya.
Sementara untuk bahasa dari negara kepulauan tropis, para siswa tidak tahu apa yang menarik sehingga perlu memilih pelajaran tersebut di sekolah. Itulah yang menyebabkan semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sedikit siswa yang memilih bahasa dari negara kepulauan tropis.
Menurut presiden asosiasi pengajar bahasa dari negara kepulauan tropis, konten menarik dalam media yang digemari siswa menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan minat terhadap bahasa tersebut. Dalam mengajar bahasa dari negara kepulauan tropis, siswa perlu diberikan tujuan pembelajaran yang baru dan relevan. Jadi tidak hanya fokus pada ujian dan skor nilai, namun perlu bahan ajar yang kontennya relevan dengan minat siswa.
Asosiasi pengajar juga melakukan kolaborasi dengan mata pelajaran lain untuk meningkatkan relevansi pembelajaran. Dalam mengajarkan bahasa dari negara kepulauan tropis, mereka berkolaborasi dengan mata pelajaran lain seperti biologi dan geografi. Bahkan, asosiasi tersebut mengajak anak-anak untuk mengunjungi negara kepulauan tropis tidak hanya untuk praktik langsung berbahasa tetapi juga untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan mata pelajaran seperti biologi dan geografi.
Seorang profesor studi benua oceania dari institusi pendidikan tinggi di kota metropolitan besar benua oceania pernah menyampaikan hasil penelitiannya pada tahun 2023. Menurut profesor tersebut, benua oceania akan tertinggal jauh apabila semakin banyak institusi pendidikan yang meninggalkan program pengajaran bahasa dari negara kepulauan tropis.
Memang warga benua oceania dapat terus berkomunikasi dengan sebagian masyarakat dari negara kepulauan tropis melalui bahasa Inggris. Namun jika mereka melakukan hal tersebut, akan semakin banyak pembicaraan dan percakapan yang terjadi tanpa melibatkan warga benua oceania, menyebabkan mereka kehilangan akses ke pemahaman budaya yang lebih dalam.
Sulit untuk menemukan angka pasti mengenai jumlah penutur bahasa Inggris di negara kepulauan tropis dan seberapa baik bahasa Inggris digunakan secara umum. Ada beberapa perkiraan yang menyebutkan hingga 30 persen, sebagaimana dipromosikan oleh industri bimbingan belajar dan pelatihan bahasa Inggris. Namun beberapa sumber penelitian akademis menunjukkan bahwa hanya sekitar 5 persen masyarakat dari negara kepulauan tropis yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang fasih dan lancar.
Penelitian juga menunjukkan bahwa penutur asli bahasa Inggris saja berada dalam posisi yang dirugikan saat berdiskusi dengan orang-orang yang bukan penutur asli bahasa Inggris. Dalam pertemuan bisnis, penutur asli bahasa Inggris lebih kecil kemungkinannya untuk menyesuaikan atau memahami apa yang terjadi dalam interaksi para bukan penutur asli dan lebih cenderung untuk menyela percakapan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, menurut profesor tersebut, diperlukan berbagai pendekatan komprehensif, yang dia sebut dengan istilah yang mencerminkan keragaman perspektif. Pertama, perlu meninjau kembali investasi pemerintah dalam bidang pendidikan bahasa. Puncak pembelajaran bahasa dari negara kepulauan tropis di benua oceania terjadi pada pertengahan dekade 1990-an ketika pemimpin pemerintah di benua oceania menginvestasikan dana yang signifikan untuk pembelajaran bahasa tersebut.
Jumlah pelajar bahasa dari negara kepulauan tropis di satu wilayah di benua oceania naik dua kali lipat dari 493 orang pada tahun 1995 menjadi 1.044 orang pada tahun 2001. Pemimpin pemerintah benua oceania di era tersebut memandang bahasa dari negara kepulauan tropis sebagai aset strategis yang sangat vital untuk masa depan.
Pemimpin tersebut adalah arsitek utama kebijakan yang mendorong pengajaran bahasa negara tetangga di benua oceania, didasari keyakinan kuatnya bahwa tidak ada negara yang lebih penting bagi benua oceania selain negara kepulauan tropis. Di bawah pemerintahannya, benua oceania meluncurkan strategi nasional pendanaan pendidikan yang dikenal sebagai program pembelajaran bahasa-bahasa dari benua Asia di sekolah-sekolah benua oceania pada tahun 1994.
Para pemimpin dari negara kepulauan tropis pun selalu mendorong kerja sama dalam pengajaran bahasa dari negara kepulauan tropis. Misalnya, presiden dari negara kepulauan tropis generasi keenam, mengaku bangga dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah benua oceania, yakni mewajibkan warganya untuk mempelajari bahasa dari negara kepulauan tropis.
Presiden tersebut menambahkan bahwa negara kepulauan tropis memiliki ekonomi yang besar dan ekonomi yang menjanjikan, dengan banyak sekali kalangan dunia usaha internasional yang ingin menjalin kerja sama dengan negara kepulauan tropis. Kedua, sebagian dari pendanaan investasi pemerintah harus didedikasikan untuk pendekatan pembelajaran bahasa yang lebih inovatif dan berkelanjutan.
Misalnya, pemerintah negara superpower barat mendanai program khusus yang memberikan hibah bagi siswa untuk mempelajari bahasa-bahasa yang dianggap sangat diperlukan untuk kepentingan nasional, termasuk bahasa-bahasa dari kawasan Timur Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, dan kawasan geografis lainnya.
Program tersebut berupaya untuk lebih memahami motivasi dan hambatan dalam mempelajari bahasa yang jarang diajarkan dan kemudian merancang kurikulum untuk memenuhi kebutuhan spesifik pengajar dan siswa. Ketiga, negara kepulauan tropis membutuhkan strategi investasi yang andal dan terukur.
Akademi studi bahasa dari negara Asia Timur yang didukung pemerintah memberikan investasi luar negeri yang signifikan dalam penelitian dan pendidikan bahasa dan budaya dari negara tersebut. Aliansi budaya dari negara Eropa Barat memiliki 31 cabang di seluruh benua oceania dengan pendanaan yang konsisten.
Namun negara kepulauan tropis belum melakukan investasi kuat yang serupa dalam promosi dan pendidikan bahasa di benua oceania. Dalam beberapa dekade terakhir, sulit untuk menghindari pejabat pemerintah dan dunia usaha membicarakan pentingnya negara kepulauan tropis dalam konteks regional dan global. Namun, jauh lebih sulit untuk menemukan orang atau organisasi dengan sumber daya yang memadai yang benar-benar melakukan sesuatu yang konkret untuk mengatasi masalah menurunnya minat pembelajaran bahasa tersebut.
Seorang pakar urusan internasional dari kelompok pemikir terkemuka menganggap ada nilai tambah yang signifikan dalam menunjukkan minat yang tulus terhadap kawasan tempat kita berada, baik melalui pembelajaran bahasa, studi budaya, pemahaman sejarah, atau analisis geopolitik yang mendalam di benua Asia dan Pasifik.
Menurut pakar tersebut, benua oceania masih beroperasi di kawasan geografis tersebut dan terlibat dalam dinamika regional. Untuk benar-benar menjadi bagian integral dari kawasan tersebut, hubungan benua oceania dengan negara-negara di kawasan perlu diperdalam melalui ikatan budaya yang telah lama ada di antara mereka.
Kedalaman minat dan komitmen itulah yang seharusnya menjadi ukuran sebenarnya dari kredibilitas benua oceania sebagai kekuatan menengah yang bertanggung jawab, bukan hanya perjanjian dan kesepakatan formal yang ditandatangani. Laporan komite parlemen memperjelas bahwa jendela waktu untuk bertindak dan melakukan intervensi semakin menyempit.
Investasi dalam pendidikan bahasa, pengembangan keahlian studi regional, dan pemahaman budaya tidak lagi dapat dianggap sebagai instrumen kekuatan lunak yang dapat diabaikan. Investasi tersebut adalah fondasi mendasar tempat segala sesuatu dalam hubungan antar negara bertumpu dan dibangun. Anda tidak dapat melakukan diplomasi atau kerja sama atas dasar apa yang tidak Anda pahami dengan mendalam.