Beritagosip.com – Penulis buku Memburu Muhammad dan Bukan Perawan Maria Feby Indirani buka suara mengenai kedua karyanya yang belakangan dipersoalkan sejumlah pihak. Feby tegas karya fiksi yang tulisnya lahir dari niat baik dan berangkat dari pengalaman serta pengamatan sebagai seorang Muslim.
Feby jelaskan dirinya lahir dan tumbuh sebagai seorang Muslim. Menurut dia karya-karya yang tulisnya miliki keterkaitan erat dengan tradisi khazanah dan keragaman tafsir dalam dunia Islam.
Saya lahir dan tumbuh sebagai seorang Muslim. Perjalanan kepenulisan saya berakar kuat pada tradisi kekayaan khazanah serta keragaman tafsir dalam dunia Islam. Sejak kecil saya terbiasa baca dan dengar kisah-kisah hikmah yang potret dunia manusia dan kebenaran secara arif reflektif penuh humor serta tidak pernah hitam-putih kata Feby saat dihubungi Senin (28/9).
Dia katakan isi Bukan Perawan Maria dan Memburu Muhammad berasal dari pengalaman dan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari umat Muslim di Indonesia.
Menurut Feby kedua buku tersebut dibuat sebagai upaya untuk gambar keberagaman dan kompleksitas kehidupan beragama.
Semua cerita di dalam Bukan Perawan Maria dan Memburu Muhammad bersumber dari pengalaman serta pengamatan atas kehidupan sehari-hari umat Muslim di Indonesia. Kedua buku tersebut merupakan ikhtiar untuk cermin warna dinamika serta kompleksitas laku beragama kita sehari-hari ucap dia.
Feby juga nilai karya sastra tidak seharusnya pahami hanya berdasarkan judul pemberitaan maupun artikel opini. Dia katakan fiksi miliki perangkat sastra tersendiri dalam sampaikan cerita.
Sebagai karya sastra fiksi bekerja melalui perangkat-perangkat sastrawi ia bertumpu pada sudut pandang tokoh fiktif simbol dan kiasan. Teks sastra tidak dapat nilai dengan cara baca judul berita atau artikel opini imbuh dia.
Terkait Memburu Muhammad Feby jelaskan cerpen tersebut gunakan sudut pandang tokoh fiktif Abu Jahal yang dikenal sebagai salah satu musuh utama Nabi Muhammad SAW.
Dalam cerita itu Abu Jahal digambar sebagai sosok yang tidak akui kenabian Rasulullah tetapi secara diam-diam akui keagungan pribadi Nabi Muhammad.
Sebagai contoh dalam cerpen Memburu Muhammad sebagaimana cerita-cerita lainnya di kedua buku tersebut saya gunakan sudut pandang tokoh fiktif yakni Abu Jahal musuh utama Nabi Muhammad SAW. Sebagai musuh dia tentu enggan akui kenabian Rasulullah tetapi diam-diam tidak kuasa sangkal keagungan pribadi beliau. Salah satu ukuran tertinggi kemuliaan seseorang adalah ketika musuhnya sekalipun akui kehebatannya. Dalam cerita tersebut Abu Jahal heran lihat begitu banyak orang sandang nama Muhammad namun tidak teladani akhlaknya jelaskan dia.
Feby jelaskan makna judul Memburu Muhammad tidak merujuk pada sosok Nabi Muhammad secara harfiah. Menurut dia hal yang dicari dalam cerita tersebut adalah sifat-sifat mulia Nabi.
Apa yang sesungguhnya diburu dalam konteks ini adalah sifat-sifat mulia sang Nabi selaras dengan makna kata memburu dalam KBBI yakni berusaha keras untuk dapat atau raih sesuatu lanjutnya.
Dia juga sebut Memburu Muhammad sudah ditempatkan dalam koridor sastra dakwah dalam sejumlah kajian akademis. Menurut Feby kedua bukunya juga sudah dibahas di sejumlah forum perguruan tinggi dan dibaca oleh ribuan umat Muslim.
Secara akademis kajian terhadap buku ini bahkan tempatkan dalam koridor sastra dakwah seperti yang catat dalam riset jurnal ilmiah STID Al-Hadid. Karya-karya ini juga sudah dibahas di berbagai forum perguruan tinggi termasuk di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jejak perjalanan kedua buku ini sudah panjang dan sudah dibaca secara wajar oleh ribuan umat Muslim tutur dia.
Feby kemudian jelaskan perjalanan penerbitan Bukan Perawan Maria. Buku tersebut pertama kali terbit pada 2017. Saat peluncurannya Menteri Agama RI kala itu Lukman Hakim Saifuddin disebut hadir dan beri pidato kebudayaan.
Buku tersebut kemudian terjemah dan terbitkan di Italia pada 2019. Di Indonesia buku itu terbitkan kembali oleh Bentang Pustaka yang merupakan bagian dari Mizan Group.
Sementara Memburu Muhammad terbit pada 2020 dengan kata pengantar dari Gus Nadirsyah Hosen. Feby katakan buku tersebut juga pernah dibahas secara mendalam oleh Gus Ulil Abshar Abdalla dalam peluncuran daring pada masa pandemi.
Feby tegas kedua karyanya dibuat dari perspektif masyarakat Muslim dan dengan tujuan ajak pembaca lakukan refleksi.
Saya tulis dari dalam diri masyarakat Muslim sendiri. Karya-karya ini lahir dengan niat baik sebuah ikhtiar kreatif ajak kita merenung berdialog dan periksa diri sendiri. Menghakimi karya sastra hanya dari judul atau potongan teks di media sosial yang bingkai sedemikian rupa secara tidak berimbang justru jauh misi sastra sebagai bagian dari pendidikan dan kemaslahatan umat katanya.
Akademisi dan profesor hukum Nadirsyah Hosen yang dikenal dengan nama Gus Nadir turut buka suara perihal buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani. Pria tersebut juga pihak yang tulis kata pengantar buku Memburu Muhammad tersebut.
Pada 2020 Gus Nadir tulis pengantar untuk buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani. Judul pengantar dia Memburu Imajinasi Penulis. Enam tahun kemudian ketika diskusi buku itu dibatalkan dan tuduhan penghinaan agama mengemuka dia teringat pengalaman bacanya. Sebuah cerita yang bikin dia rindukan keteladanan Nabi kini dipersoalkan seolah-olah sedang rendahkan beliau.
Gus Nadir tunjukkan bahwa ada jarak yang perlu periksa antara kesan ketika lihat judul dan pahami setelah baca cerita. Dalam jarak itulah prasangka bisa tumbuh tetapi penjelasan juga bisa pertemukan kita.
Dia pahami mengapa judul Memburu Muhammad bikin sebagian orang terkejut. Nama Muhammad miliki tempat yang amat dalam di hati umat Islam. Kita sebut dalam salawat rindukan dalam doa dan kenal kepada anak-anak dengan penuh cinta. Kata memburu yang letakkan di depan nama itu dapat timbulkan kesan mengancam.
Namun keterkejutan belum merupakan bukti penghinaan. Kita masih harus tanya siapa yang memburu siapa yang diburu dan apa yang hendak sampaikan melalui perburuan tersebut.
Dalam cerita Feby Abu Jahal hadir di dunia modern. Dia memburu orang-orang bernama Muhammad tetapi kecewa karena tidak temukan sosok seperti musuh abadinya dahulu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Jika judul itu dibaca bersama substansi kisahnya konteksnya jadi jelas Abu Jahal Memburu Nabi Muhammad. Itulah penjelasan tentang siapa yang bertindak dan siapa yang dicarinya. Abu Jahal cari musuh abadinya melalui orang-orang bernama Muhammad yang ditemui di dunia modern.
Yang memburu adalah Abu Jahal tokoh dalam cerita. Ubah tindakan tokoh jadi tuduhan terhadap pengarang merupakan kekeliruan baca yang mendasar. Penulis dapat hadirkan kebencian untuk perlihatkan keburukannya. Seorang musuh dapat dimunculkan untuk singkap kebesaran orang yang dimusuhkan.
Hadirkan Abu Jahal dalam cerita tidak jadikan penulis pengikut Abu Jahal. Lantas di mana letak penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad dalam judul dan alur tersebut? Dia tidak temukan. Yang dia temukan justru gugatan terhadap jarak antara kemuliaan akhlak Nabi dan perilaku kita yang akui cintainya. Di situlah dia rasa tertusuk.
Gus Nadir tegas kondisi ini bukan perang antar dua pihak melainkan kekalahan sepihak. Ini bukan perang. Ini adalah pertumpahan darah sepihak sepenuhnya dengan perusahaan asuransi berada di pihak yang kalah.
Polda Metro Jaya akan selidiki kedua buku tersebut. Kedua buku yang dimaksud miliki tajuk Bukan Perawan Maria dan Memburu Muhammad.