Beritagosip.com – Dunia kerja tak lagi ramah bagi lulusan universitas. Baik di Indonesia maupun China, krisis ketenagakerjaan memaksa para sarjana untuk menjalani hidup yang jauh dari bayangan pendidikan mereka.
1 Juta Sarjana Menganggur di Indonesia
Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, mengungkapkan bahwa lebih dari 1 juta sarjana Indonesia kini menganggur. Ia menyebut kondisi ini sebagai kegagalan sistemik, terlebih di tengah harapan besar pada bonus demografi Indonesia.
“Lebih dari 1 juta sarjana menganggur? Ini ironi besar di tengah bonus demografi yang katanya menjadi peluang untuk Indonesia Emas,” kata Nurhadi.
Meski anggaran pendidikan negara mengucur deras hingga triliunan rupiah, hasilnya belum menciptakan lapangan kerja sepadan. Sistem pendidikan pun dinilai belum mampu menyelaraskan kebutuhan pasar kerja.
Ketika Sarjana Masuk Got Demi Bertahan Hidup
Kisah Musarotun (29), lulusan sarjana akuntansi, mencerminkan kerasnya realitas. Ia kini bekerja sebagai petugas PPSU di Jakarta, sebuah pekerjaan yang menuntutnya membersihkan saluran air dan got.
“Daftar PPSU harapannya untuk kemajuan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Bagi sebagian lulusan, pekerjaan formal sesuai ijazah terasa mustahil diraih. Maka sektor informal pun jadi pelarian. Gaji PPSU yang ia terima mungkin tak besar, namun cukup untuk menopang kebutuhan rumah tangga.
Sarjana China Jadi ‘Cucu Penuh Waktu’
Situasi tak kalah getir terjadi di China, yang kini mencatatkan pengangguran anak muda sebesar 15,8 persen per April 2025. Dengan makin sempitnya peluang kerja, solusi tak biasa pun muncul.
Sebagian pemuda memilih menjadi “cucu penuh waktu”, pekerjaan yang melibatkan merawat kakek-nenek mereka secara harian. Mereka diberi makan, tempat tinggal, dan dukungan dari keluarga lansia yang mereka rawat.
“Jika kamu merawatku dengan baik dan membantuku hidup beberapa tahun lagi, itu lebih baik daripada apa pun yang dapat kamu lakukan di luar sana,” kata seorang kakek di China kepada cucunya.
Lulusan Oxford Jadi Kurir Makanan
Kisah lain datang dari Ding Yuanzhao, lulusan Universitas Oxford. Kini, ia bekerja sebagai kurir makanan di Singapura karena sulit mendapat pekerjaan sesuai pendidikannya.
“Ini pekerjaan stabil. Saya bisa menghidupi keluarga. Jika Anda bekerja keras, penghasilannya layak,” ujar Ding.
Bagi Ding, gelar tinggi tak menjamin kesuksesan karier. Ia memilih realita yang stabil daripada idealisme yang tak terwujud.