Beritagosip.com – Kenaikan biaya pendidikan Sekolah Dasar (SD) setiap tahun terus menjadi beban yang semakin berat bagi para orangtua di Indonesia. Berdasarkan data jurnalisme, biaya sekolah SD—baik negeri maupun swasta—mengalami kenaikan rata-rata 12,6 persen per tahun dalam rentang waktu 2018 hingga 2024.
Pada tahun 2018, biaya rata-rata sekolah SD tercatat sebesar Rp 2,4 juta, kemudian naik menjadi Rp 3,2 juta pada 2021, dan melonjak hingga Rp 4,6 juta di tahun 2024. Sementara itu, kenaikan gaji orangtua hanya tumbuh rata-rata 2,6 persen per tahun, jauh tertinggal dari laju biaya pendidikan.
Mengacu pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata penghasilan buruh, karyawan, atau pegawai pada 2018 sebesar Rp 2,8 juta per bulan, sempat turun di 2021 menjadi Rp 2,7 juta, dan baru meningkat kembali pada 2024 menjadi Rp 3,3 juta per bulan.
Kesenjangan ini semakin mencolok bagi orangtua yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Biaya transportasi naik hingga 3,3 kali lipat, SPP meningkat 2,2 kali, kunjungan edukatif 2 kali, uang saku 1,9 kali, dan uang pendaftaran 1,8 kali lipat dalam enam tahun terakhir.
Melihat data tersebut, perencana keuangan Andy Nugroho mengaku tidak heran. Ia menyatakan bahwa lonjakan biaya ini sesuai dengan tren tahunan yang lazim terjadi di sektor pendidikan Indonesia.
“Saya tidak terlalu heran dan kaget dengan lonjakan biaya pendidikan tersebut, karena memang kenaikannya rata-rata segitu tiap tahunnya,” ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (17/7/2025).
Menurut Andy, tidak ada jalan lain selain menyiapkan dana pendidikan sejak dini. Orangtua harus mampu mengelola keuangan lebih bijak, apalagi jika penghasilan terbatas.
“Orangtua harus bekerja ekstra keras ataupun mengelola keuangannya dengan lebih bijak agar bisa membiayai anak-anaknya untuk dapat bersekolah di tempat yang diinginkan.”
Ia menekankan pentingnya menabung sedini mungkin dan melakukan estimasi biaya masuk sekolah sejak awal. Estimasi ini bisa dihitung dengan memperkirakan berapa biaya sekolah saat anak akan memasuki jenjang pendidikan tersebut.
Setelah estimasi biaya diketahui, kalkulator finansial dapat digunakan untuk membagi nominal tersebut dengan waktu yang tersedia, sehingga orangtua tahu berapa yang harus ditabung setiap bulan.
“Dana yang ditabung sendiri bisa disisihkan misalnya sebulan sekali tiap kali habis gajian,” jelasnya.
Apabila jangka waktu masuk sekolah masih cukup panjang, misalnya lebih dari lima tahun, Andy menyarankan agar dana tersebut diinvestasikan agar nilainya tumbuh lebih cepat.
Beberapa produk yang direkomendasikan untuk tabungan pendidikan antara lain:
- Tabungan pendidikan dari bank
- Asuransi pendidikan dari perusahaan asuransi jiwa
Andy menegaskan bahwa mencicil tabungan jauh lebih ringan dibanding harus membayar biaya besar sekaligus. Dengan perencanaan matang, orangtua tetap bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anak meskipun kondisi ekonomi sedang menantang.