Beritagosip.com Kasus bayi tertukar RSHS Bandung tengah diselidiki oleh Polrestabes Kota Bandung. Dugaan kelalaian perawat RSHS menjadi fokus utama dalam investigasi polisi Bandung terkait insiden tersebut.
Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Anton menyampaikan bahwa timnya telah meminta keterangan dari pihak rumah sakit. Langkah ini dilakukan untuk menilai kemungkinan adanya pelanggaran SOP rumah sakit atau unsur pidana dalam kasus bayi tertukar.
Anton menjelaskan bahwa proses investigasi polisi Bandung masih berlangsung. Pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Hasil penyelidikan akan disampaikan setelah proses berjalan lebih jauh.
Petugas kepolisian juga mendatangi lokasi kejadian. Mereka mengumpulkan data awal serta berkoordinasi langsung dengan pihak rumah sakit. Namun, penyebab pasti insiden belum dapat dipastikan. Polisi masih menelusuri apakah kejadian ini murni kelalaian perawat RSHS atau terdapat unsur lain.
Tim penyelidik akan memeriksa rekaman CCTV. Selain itu, keterangan dari tenaga medis yang bertugas saat kejadian juga akan dikumpulkan. Polisi berencana memanggil pihak terkait untuk mendapatkan gambaran kronologi yang utuh.
Kasus bayi tertukar RSHS Bandung ini mencuat setelah seorang ibu bernama Nina Saleha membagikan pengalamannya melalui media sosial TikTok. Ia mengaku hampir kehilangan bayinya akibat kelalaian perawat RSHS.
Nina baru saja melahirkan dan bayinya sempat dirawat di ruang NICU. Setelah perawatan selesai, pihak rumah sakit menginformasikan bahwa bayinya sudah boleh pulang.
Saat menunggu proses administrasi, Nina dan suaminya pergi makan. Ia merasa tenang karena mengira bayinya tetap berada di ruang perawatan yang diawasi perawat. Namun, perasaan tidak nyaman muncul dan membuatnya kembali ke ruangan.
Setibanya di sana, Nina terkejut. Ia melihat bayinya berada dalam gendongan orang lain yang bukan perawat. Situasi tersebut memicu reaksi emosional. Ia segera mengambil bayinya sambil mempertanyakan tindakan tersebut.
Nina mengenali bayinya dari selimut dan pakaian yang ia siapkan. Orang yang menggendong bayi tampak kebingungan saat ditanya. Kejadian ini memperkuat dugaan kelalaian perawat RSHS dalam kasus bayi tertukar.
Keramaian terjadi setelah insiden itu. Para perawat berkumpul, namun jawaban yang diberikan dinilai tidak memuaskan. Nina menyatakan bahwa petugas menyebut dirinya sempat dipanggil tetapi tidak datang. Ia mempertanyakan bagaimana bayi bisa berada di tangan orang lain.
Ia juga menyoroti tidak adanya petugas keamanan di ruang bayi. Kondisi ini menambah kekecewaan terhadap SOP rumah sakit yang seharusnya menjaga keamanan pasien.
Nina berencana melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Ia berharap kasus bayi tertukar tidak terulang dan tidak menimpa orang lain di masa depan.
Pihak RSHS Bandung telah mengambil tindakan. Perawat yang terlibat menerima sanksi berupa surat peringatan pertama. Selain itu, perawat tersebut dipindahkan ke bagian yang tidak berhubungan langsung dengan pasien.
Direktur Utama RSHS, dr. Rachim Dinata Marsidi, menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk respons atas kelalaian perawat RSHS.
Manajemen rumah sakit juga menyatakan kesiapan untuk evaluasi dari Kementerian Kesehatan. Mereka telah melaporkan kejadian ini sebagai bagian dari transparansi.
Evaluasi internal akan dilakukan secara menyeluruh. Rumah sakit berkomitmen memperkuat penerapan SOP rumah sakit, khususnya dalam prosedur penyerahan bayi kepada orang tua.
Kasus bayi tertukar RSHS Bandung menjadi perhatian serius. Investigasi polisi Bandung masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti dan menentukan langkah hukum selanjutnya.