Beritagosip.com China murka Selat Hormuz setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade Selat Hormuz AS yang berdampak pada jalur perdagangan minyak global. Langkah ini memicu konflik Selat Hormuz dan meningkatkan ketegangan global energi.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa negaranya melakukan blokade Selat Hormuz AS. Ia juga menyatakan kapal yang tertahan akan ditenggelamkan atau diusir dari wilayah tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menilai tindakan itu berbahaya. Ia menyebut langkah tersebut dapat memperburuk konflik Selat Hormuz serta melemahkan stabilitas kawasan.
Guo menegaskan bahwa pengerahan militer dan kebijakan blokade Selat Hormuz AS akan meningkatkan ketegangan global energi. Ia juga menilai langkah tersebut dapat mengganggu keamanan jalur perdagangan minyak yang vital bagi dunia.
Dalam pernyataan terpisah, Guo kembali menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur internasional penting. Jalur ini digunakan untuk distribusi energi dan berbagai komoditas utama.
Ia menyatakan bahwa menjaga keamanan jalur perdagangan minyak adalah kepentingan bersama komunitas internasional. Stabilitas kawasan dinilai sangat penting untuk memastikan kelancaran distribusi energi global.
Menurut Guo, akar dari konflik Selat Hormuz adalah konflik militer yang belum terselesaikan. Ia menekankan bahwa penyelesaian harus dimulai dengan menghentikan konflik tersebut secepat mungkin.
China juga menyerukan semua pihak untuk menahan diri. Negara tersebut menyatakan akan terus berperan dalam menjaga stabilitas dan meredakan ketegangan global energi.
Terkait pasokan energi, China menyatakan kesiapan bekerja sama dengan negara lain. Upaya ini bertujuan menjaga rantai pasokan tetap stabil di tengah konflik Selat Hormuz.
Namun, Guo menegaskan bahwa solusi utama tetap bergantung pada pemulihan perdamaian di kawasan Teluk dan Timur Tengah. Stabilitas dinilai sebagai kunci utama mengatasi ketegangan global energi.
Blokade Selat Hormuz AS diumumkan setelah negosiasi antara AS dan Iran mengalami kebuntuan. Perundingan tersebut berlangsung di Pakistan namun tidak mencapai kesepakatan.
Dalam negosiasi itu, Amerika Serikat meminta Iran menghentikan program nuklirnya secara total. Washington juga menuntut penyerahan uranium yang telah diperkaya.
Iran menolak tuntutan tersebut dan tetap mempertahankan hak pengayaan uranium. Negara itu juga menegaskan kontrolnya atas Selat Hormuz sebagai jalur strategis.
Ketegangan meningkat setelah konflik militer berlangsung lebih dari satu bulan. Dalam konflik tersebut, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran.
Serangan tersebut menyebabkan ribuan korban jiwa. Situasi ini memperparah konflik Selat Hormuz dan meningkatkan ketegangan global energi.
Sebagai respons, Iran memperketat akses kapal di Selat Hormuz. Pembatasan ini terutama ditujukan kepada negara yang berafiliasi dengan AS dan Israel.
Langkah tersebut semakin memperburuk jalur perdagangan minyak global. Konflik Selat Hormuz kini menjadi perhatian serius karena dampaknya terhadap ketegangan global energi dan stabilitas internasional.