Beritagosip.com Israel diduga menutupi data tentara stres berat selama agresi di Jalur Gaza. Informasi ini mencuat dari laporan media setempat.
Militer Israel disebut menyembunyikan data pemberhentian ribuan tentara. Mereka diberhentikan karena gangguan psikologis selama perang berlangsung.
Surat kabar Haaretz, mengutip Anadolu Agency, mengungkap hal tersebut. Israel disebut tidak membuka seluruh data terkait kondisi mental prajurit.
Haaretz telah meminta data resmi sejak 2025. Permintaan itu tidak dipenuhi oleh pihak militer Israel.
Pihak Israel menyatakan permintaan harus diajukan melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi. Namun, Haaretz menilai penundaan itu melanggar aturan.
Otoritas seharusnya memberi respons dalam 30 hari. Perpanjangan maksimal 120 hari hanya berlaku dalam kondisi khusus.
Sekitar sebulan setelah permintaan diajukan, Israel meminta tambahan waktu 30 hari. Hingga kini, data tersebut belum dirilis.
Beberapa pejabat militer menyebut laporan itu tidak memuaskan komandan. Ada dugaan data tidak sesuai dengan tujuan internal.
Seorang perwira mengaku terdapat praktik manipulasi angka. Informasi yang dianggap merugikan disebut disembunyikan.
“Militer tidak ingin publik mengetahui tingkat tekanan psikologis prajurit,” ujar sumber tersebut.
Haaretz melaporkan militer sengaja menahan publikasi data. Skala kasus dinilai besar dan berpotensi memengaruhi kondisi politik.
Pada awal agresi, jumlah kasus disebut sangat tinggi. Banyak tentara mengalami tekanan mental berat.
Sejumlah laporan menyebut prajurit tidak mampu kembali bertugas. Kondisi psikologis mereka terganggu secara serius.
Militer Israel kemudian menambah tenaga kesehatan mental. Pusat perawatan khusus juga dibentuk untuk menangani kasus tersebut.
Selain itu, data bunuh diri tentara tidak dipublikasikan hingga akhir 2024. Israel tutupi data tentara stres menjadi perhatian publik global.