Beritagosip.com – Setelah hampir setengah tahun berperang melawan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menemukan dirinya dalam situasi yang semakin rumit dan memberikan tekanan besar. Juru analisis Aaron Blake dari CNN mengungkapkan bahwa berbagai isu kompleks terus bermunculan, memperparah daftar masalah yang sudah panjang bagi administrasi Trump.
Salah satu insiden yang menarik perhatian terjadi ketika Trump kembali dari KTT NATO di Turki dengan mengganti pesawat secara diam-diam. Pemindahan dari Air Force One ke jet militer ini mencerminkan kekhawatiran serius dari pemerintahan Trump terhadap ancaman dari kekuatan militer Iran, meski secara resmi klaim AS menyatakan Iran telah “dihancurkan”.
Pada pekan ini, media-media Amerika menemukan fakta bahwa Trump melakukan pertukaran pesawat saat pulang dari Turki. Untuk menghindari perhatian media dan staf, Trump memasuki kontainer katering untuk berpindah ke pesawat lain tanpa diketahui oleh publik.
Insiden penggantian pesawat ini terjadi karena Trump menerima laporan ancaman pembunuhan dari Iran. Diduga ada individu di lokasi sekitar KTT NATO yang membawa sistem rudal bahu. Meskipun langkah pengamanan ini dapat dipahami sebagai tindakan proteksi terhadap seorang pemimpin negara, pers Amerika menyoroti realitas yang mengkhawatirkan.
Pesawat yang semula dituju Trump berserta rombongan pers hanya membawa jurnalis dan staf administrasi tanpa pengetahuan mereka bahwa keselamatan mereka sedang terancam bahaya. Tidak terdapat komunikasi apapun kepada wartawan mengenai potensi serangan rudal tersebut. Praktik ini menyimpang dari protokol standar untuk perjalanan dengan keamanan tinggi, yang biasanya mengharuskan rombongan pers diberitahu lebih dulu sambil tetap merahasiakan rencana.
Yang lebih penting, insiden ini melemahkan narasi Trump bahwa Iran telah kehilangan daya serang dan kemampuannya.
Tantangan lain yang dihadapi Trump berkaitan dengan cadangan peralatan perang AS yang terus mengalami penurunan sejak dimulainya pertempuran dengan Iran. Sebelum perang dimulai, Panglima Staf Gabungan Amerika Jenderal Dan Caine telah memberikan peringatan bahwa persediaan amunisi bisa menjadi masalah serius bila peperangan berlanjut lama.
Ketika medeklarasikan perang, Trump mengekspresikan keyakinan bahwa Iran akan jatuh dalam kurun waktu empat hingga enam minggu. Realitasnya, pertempuran sudah memasuki bulan keenam tanpa tanda-tanda berakhir. CNN melaporkan bahwa hampir 80 persen rudal pencegat telah dikonsumsi oleh angkatan militer AS dalam melawan Iran.
Mengecam laporan tersebut, Trump menegaskan AS masih memiliki stok amunisi yang cukup untuk menyelesaikan operasi di Iran. Namun demikian, pernyataan tersebut tidak mampu menenangkan kekhawatiran bahwa AS mungkin akan menghadapi kekurangan persenjataan vital di masa mendatang.
Produksi sistem pertahanan membutuhkan waktu yang panjang. Situasi ini dapat menempatkan AS dalam posisi yang lemah atau memungkinkan pesaing seperti China memanfaatkan kesempatan untuk mengancam Taiwan, yang sangat bergantung pada perlengkapan militer dari Amerika Serikat.
Lebih lanjut, Trump juga dihadapkan pada isu perpecahan di dalam lingkungan dekatnya. Tokoh-tokoh penting di tim Trump mulai menunjukkan kelelahan terhadap pertempuran yang berlanjut dan mulai memberi sinyal bahwa waktu untuk menghentikan perang sudah tiba.
Pada pekan lalu, CNN melaporkan bahwa Jenderal Caine telah mengadakan diskusi dengan para konsultan Trump untuk menerangkan bahwa pemerintah perlu mengakhiri pertempuran dengan segera. Menurut Caine, pilihan-pilihan militer yang tersedia bisa berubah menjadi boomerang bagi Trump, dan kekuatan udara sendirian kemungkinan tidak akan berhasil mencapai tujuan akhir perang.
Ketua Majelis Perwakilan Rakyat Mike Johnson baru-baru ini juga menyatakan “kita harus mengakhirinya”. Pembawa acara Fox News Laura Ingraham juga mulai menyuarakan bahwa “waktu terus berjalan”. Johnson tampaknya cemas terhadap pemilihan pertengahan masa jabatan yang akan berlangsung tiga bulan mendatang. Sementara Fox News, yang sebelumnya sangat antusias mendukung perang, kini mulai ragu-ragu terhadap keputusan Trump.
Bahkan Benny Johnson, tokoh yang berpengaruh di sayap kanan dan pendukung utama Trump, ikut mendesak penghentian perang. Ia mendesak Presiden untuk mengalihkan fokus pada isu-isu domestik.
“Perang internasional yang tidak kunjung selesai selalu dibenci. Perang semacam itu akan terus menjadi penyakit bagi politik,” tulisnya di X minggu lalu.
“Akhiri pertempurannya. Selesaikan. Fokuskan kembali pada Amerika. Biaya energi, harga pangan, biaya properti, dan masalah migrasi. Itu adalah formula kita untuk menang.”
Tantangan tambahan dihadapkan pada Trump menyangkut kondisi kesehatan fisik dan emosional para tentara di lapangan pertempuran. Durasi perang yang berkepanjangan tampaknya telah mempengaruhi kesejahteraan fisik dan mental anggota militer serta personel sipil, yang belakangan dilaporkan sangat frustrasi karena perpanjangan penugasan mereka di lapangan.
Sejumlah organisasi berita, termasuk MS Now, Military Times, dan Navy Times, mengungkapkan bahwa keluarga awak kapal perang dan anggota marinir dari kapal induk USS Abraham Lincoln sangat lelah dengan penugasan panjang mereka.
Beberapa tentara bahkan melakukan tindakan ekstrem dengan terjun ke laut karena ingin segera kembali ke rumah.
USS Abraham Lincoln mencatat rekor durasi penugasan terpanjang, melampaui 260 hari. Kapal ini telah berlayar dan beroperasi di wilayah Laut Tengah sejak November 2025.
Berdasarkan cerita yang disampaikan personel kepada orang terkasih mereka, kondisi Abraham Lincoln sangat memprihatinkan, dengan kekurangan makanan dan air bersih; ketiadaan perlengkapan dasar seperti sabun, sikat gigi, dan deodoran; bahkan lantai penerbangan telah mengalami kerusakan.
Para anggota lelah karena libur sangat jarang, dan mereka sudah tidak tahan lagi dengan kondisi kapal yang berat.
Angkatan Laut Amerika menyatakan bahwa mereka “memperlakukan kesejahteraan setiap personel dengan serius dan mempunyai staf profesional dalam bidang pastoral, medis, serta psikologis yang siap mengevaluasi dan mengatasi berbagai isu yang muncul.”
Meskipun demikian, kisah-kisah yang beredar ini menunjukkan dengan jelas berbagai tantangan yang dihadapi Trump dan menyebabkan sakit kepala bagi dirinya.