Beritagosip.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir tidak muncul secara tiba-tiba. Akar konflik ini telah terbentuk sejak Revolusi Iran 1979 yang mengubah hubungan kedua negara secara drastis.
Sebelum revolusi, AS justru menjadi pihak yang mendorong awal program nuklir Iran melalui inisiatif “Atoms for Peace” pada era Dwight D. Eisenhower. Kerja sama dimulai pada 1957, termasuk penyediaan reaktor riset dan pasokan uranium ke Teheran.
Pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi, Iran bahkan merencanakan pembangunan puluhan reaktor nuklir untuk kebutuhan energi. Dukungan AS saat itu tidak hanya bersifat teknologi, tetapi juga strategis, yaitu menjaga pengaruh politik di kawasan dan mengamankan kepentingan energi global.
Situasi berubah setelah jatuhnya monarki dan munculnya pemerintahan baru di bawah Ruhollah Khomeini. Sejak saat itu, hubungan kedua negara memburuk, dan AS mulai mencurigai arah pengembangan nuklir Iran.
Beberapa faktor utama menjelaskan mengapa AS terus mempersoalkan nuklir Iran:
1. Perubahan dari sekutu menjadi lawan
Setelah revolusi, Iran tidak lagi menjadi sekutu Barat. Kebijakan luar negerinya berseberangan dengan kepentingan AS, sehingga setiap pengembangan teknologi strategis dianggap sebagai potensi ancaman.
2. Kekhawatiran proliferasi senjata nuklir
Program nuklir memiliki dua fungsi: energi damai dan militer. AS menilai beberapa aktivitas Iran, terutama sebelum kesepakatan 2015, mengarah pada kemampuan membuat senjata nuklir.
3. Stabilitas kawasan Timur Tengah
Iran memiliki pengaruh besar di kawasan dan diduga mendukung kelompok seperti Hezbollah. Jika Iran memiliki senjata nuklir, keseimbangan kekuatan regional dapat berubah drastis.
4. Sejarah konflik dan kebijakan tekanan
AS menerapkan berbagai kebijakan tekanan terhadap Iran, termasuk sanksi dan isolasi politik. Iran juga memandang keberadaan militer AS di sekitarnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional.
5. Kepentingan geopolitik dan energi
Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia. Mengontrol atau membatasi pengaruh Iran berarti menjaga stabilitas pasokan energi global dan kepentingan ekonomi strategis.
Menariknya, pada awalnya Ruhollah Khomeini sempat menolak pengembangan nuklir karena alasan ideologis. Namun setelah wafatnya, penerusnya Ali Khamenei memperluas program tersebut, termasuk aktivitas yang tidak selalu diumumkan secara terbuka.
Dari sudut pandang Iran, pengembangan nuklir juga dipandang sebagai bagian dari strategi pertahanan. Tekanan dari AS, konflik regional, serta ancaman perubahan rezim menjadi alasan Iran memperkuat kapasitas strategisnya.
Dengan demikian, fokus AS terhadap nuklir Iran bukan semata soal teknologi, tetapi kombinasi sejarah konflik, kepentingan geopolitik, dan kekhawatiran keamanan. Kritik terhadap program nuklir Iran muncul karena posisinya sebagai rival strategis, bukan sekadar karena kepemilikan teknologi nuklir itu sendiri.