Beritagosip.com Fenomena lubang mirip sinkhole di Aceh terus menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Lubang raksasa yang berada di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, dilaporkan semakin meluas dan berisiko mengganggu kawasan permukiman warga di sekitarnya.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menilai kejadian tersebut memiliki kemiripan dengan sinkhole. Namun, karakteristiknya tidak sepenuhnya sama dengan sinkhole pada wilayah karst. Material vulkanik disebut memiliki tingkat kerentanan serupa dengan mekanisme yang berbeda.
Plt Badan Geologi ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa sinkhole umumnya berkaitan dengan batuan gamping. Kondisi di Pondok Balik justru memperlihatkan batuan vulkanik dapat mengalami proses serupa akibat faktor geologi tertentu.
Badan Geologi ESDM menyebut pergerakan tanah pada lubang raksasa di Aceh Tengah telah berlangsung dalam waktu yang cukup panjang. Faktor batuan, kemiringan lereng, serta keberadaan aliran irigasi memperbesar potensi meluasnya lubang tersebut.
Informasi dari masyarakat setempat menyebutkan pergerakan tanah sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Proses tersebut masih terus berlanjut hingga kini, terutama ketika musim hujan tiba.
Struktur batuan dasar di lokasi berupa material vulkanik yang didominasi tufa. Batuan tersebut bersifat lepas dan berpori, dengan kondisi lereng yang sangat terjal. Di bagian selatan lokasi juga terdapat saluran irigasi yang berpotensi meluap atau meresap saat hujan deras.
Kondisi tersebut membuat batuan menjadi semakin gembur. Lereng yang tidak stabil dan keberadaan air memicu bertambahnya beban massa batuan. Selain itu, aliran air mengikis tebing ke arah samping sehingga lembah semakin melebar.
Pengikisan lateral oleh rembesan air di bagian lembah lereng turut memicu longsoran dan runtuhan batuan. Selama aliran air bawah permukaan tidak dapat dihentikan, potensi perluasan lubang mirip sinkhole di Aceh masih tetap ada.
Fenomena ini disebut telah muncul sejak awal tahun 2000-an. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Tengah menyatakan lubang kecil mulai terbentuk pada periode tersebut dan terus berkembang secara bertahap sejak 2004.
Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, menyebut belum ada literatur pasti yang menjelaskan awal mula terbentuknya longsoran tanah berbentuk lubang tersebut. Meski begitu, pergerakan awal pada periode 2000 hingga 2004 menjadi titik awal pembesaran lubang.
Laporan masyarakat pada tahun 2006 menunjukkan longsoran tersebut sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik. Jalur itu merupakan penghubung Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Dampak lanjutan dari pergerakan tanah ini juga menyebabkan relokasi warga. Pemindahan tempat tinggal dari Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru dilakukan pada periode 2013 hingga 2014.
Pada masa tersebut, rehabilitasi dan rekonstruksi dilaksanakan dalam tiga tahap. Hingga kini, fenomena lubang raksasa di Aceh Tengah masih menjadi perhatian karena terus mengalami perkembangan.