Beritagosip.com Generasi Z kembali menjadi perhatian dalam dinamika dunia kerja modern. Di balik stigma soal etos kerja, kelompok usia ini justru tercatat paling sering merasakan kesepian di lingkungan kantor.
Laporan terbaru dari ezCater mengungkap sekitar 38 persen pekerja Gen Z mengaku merasa kesepian saat menjalani aktivitas kerja. Persentase tersebut melampaui kelompok usia lain yang terlibat dalam survei.
Temuan ini menyoroti tantangan sosial yang muncul di tempat kerja masa kini. Kelompok usia 18 hingga 28 tahun dinilai menghadapi hambatan relasi yang lebih kompleks. Survei terhadap 1.000 karyawan itu menempatkan hubungan sosial sebagai faktor penting dalam engagement karyawan.
Kesenjangan relasi di era kerja hybrid
Dikutip dari Newsweek, laporan tersebut menyebut 80 persen responden merasa memiliki teman di kantor meningkatkan keterlibatan kerja. Namun, hanya 43 persen pekerja jarak jauh yang mengaku mempunyai teman dekat di tempat kerja.
Angka tersebut tertinggal jauh dibanding pekerja on-site dan hybrid. Sebanyak 69 persen dari kelompok itu menyatakan memiliki relasi dekat di kantor. Kondisi ini semakin terasa pada Gen Z. Sebanyak 38 persen pekerja dari generasi ini melaporkan rasa kesepian, tertinggi di antara kelompok usia lain.
Tantangan adaptasi model kerja baru
CEO 9i Capital Group sekaligus pengampu siniar 9innings, Kevin Thompson, menilai perubahan model kerja berperan besar.
Menurutnya, kerja jarak jauh dan kantor yang kian sepi membuat profesional muda rentan merasa terisolasi. Dunia kerja disebut masih beradaptasi dengan sistem hybrid dan remote. Fenomena perpindahan kerja yang lebih sering juga menyulitkan pembentukan relasi jangka panjang.
Thompson menambahkan, Gen Z memiliki mobilitas profesional dan geografis yang tinggi. Banyak dari mereka bergerak tanpa jangkar tradisional seperti keluarga atau komitmen jangka panjang.
Perbedaan pengalaman antar generasi
Konsultan SDM Bryan Driscoll menilai realitas kerja Gen Z sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi lama memiliki mentor tatap muka dan interaksi informal. Gen Z justru berhadapan dengan undangan kalender dan komunikasi email formal.
Ia mempertanyakan ekspektasi tinggi terhadap profesionalisme, sementara ruang sosial semakin terbatas. Menurut Driscoll, kondisi tersebut bukan masalah karakter Gen Z. Ia menyebutnya sebagai kegagalan desain tempat kerja dan masyarakat.
Driscoll juga menyinggung dampak pandemi. Gen Z memasuki dunia kerja lewat onboarding daring, rapat virtual, dan komunikasi berbasis aplikasi. Keinginan membangun koneksi ada, tetapi perusahaan dinilai tidak menyediakan alat dan ruang yang memadai.
Ekspektasi sosialisasi di kantor
Dalam laporan yang sama, 56 persen Gen Z berharap perusahaan menyediakan kesempatan bersosialisasi. Selain itu, 85 persen responden dari generasi ini menyatakan memiliki teman kerja meningkatkan engagement mereka.
Wakil Presiden People di ezCater, Robert Kaskel, menekankan pentingnya memahami alasan kebijakan kembali ke kantor. Menurutnya, kantor seharusnya menjadi destinasi yang diinginkan karyawan.
Ia mencontohkan program makanan di kantor sebagai sarana interaksi. Program tersebut dinilai mendorong kolaborasi, memperkuat ikatan tim, dan menunjukkan penghargaan perusahaan. Bagi organisasi yang kesulitan meningkatkan engagement, pendekatan ini dianggap efektif.
Kaskel menilai banyak perusahaan melewatkan alasan utama kebijakan kembali ke kantor. Data menunjukkan kantor memiliki potensi besar sebagai ruang koneksi sosial, bukan sekadar tempat kerja mandiri.
Risiko retensi dan produktivitas
Laporan ini muncul di tengah sorotan hubungan Gen Z dan perusahaan. Studi terpisah dari Intelligent.com menemukan sejumlah perusahaan memecat karyawan Gen Z hanya beberapa bulan setelah direkrut.
Satu dari enam perusahaan mengaku ragu mempekerjakan fresh graduate. Bahkan, enam dari sepuluh perusahaan menyatakan telah memecat lulusan baru pada tahun yang sama. Kondisi ini menunjukkan ketidaksesuaian ekspektasi dan budaya kerja.
Perbedaan tersebut berpotensi meningkatkan turnover dan menurunkan produktivitas. Thompson menilai fenomena ini dapat membentuk ulang cara perusahaan memandang budaya kerja. Dampaknya terhadap kesehatan mental, retensi, dan produktivitas masih perlu diamati.
Ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan ingin bertahan. Upah dan paket kompensasi yang lebih kompetitif disebut sebagai salah satu opsi.
Tekanan ekonomi dan dampak mental
Selain lingkungan kerja, tekanan ekonomi juga berkontribusi terhadap rasa kesepian Gen Z. Instruktur literasi keuangan di University of Tennessee at Martin, Alex Beene, menyebut generasi ini menghadapi tekanan ekonomi signifikan.
Pekerjaan level awal banyak terdampak PHK. Pasar tenaga kerja juga dinilai berada dalam periode sulit bagi anak muda di Amerika Serikat. Media sosial memperlihatkan kesenjangan kondisi, yang dapat memperparah perasaan terasing.
Beene menilai meningkatnya kesepian berdampak pada kesehatan mental. Namun, Gen Z disebut lebih terbuka mencari bantuan profesional dibanding generasi sebelumnya. Permintaan layanan kesehatan mental pun meningkat secara nasional.
Ia berharap, seiring membaiknya kondisi pribadi dan finansial, tekanan tersebut akan berkurang. Kesediaan mencari bantuan dinilai menjadi sisi positif dari generasi ini.
Perubahan lanskap kerja
Survei ezCater menunjukkan kantor kini tidak lagi sekadar ruang kerja. Bagi sebagian pekerja, kantor menjadi potensi ruang interaksi sosial yang belum optimal.
Data keterkaitan pertemanan dan engagement memperlihatkan korelasi kuat. Dengan 80 persen responden menyatakan teman kerja meningkatkan keterlibatan, isu kesepian relevan bagi individu dan organisasi.
Pengalaman Gen Z yang memulai karier saat pandemi membentuk realitas kerja berbeda. Rekrutmen dan orientasi daring menciptakan jarak sosial sejak awal.
Perubahan pola kerja, fleksibilitas lokasi, dan mobilitas karier yang tinggi menghadirkan dinamika baru dalam relasi profesional. Temuan ini menambah diskursus tentang penyesuaian kebijakan dan budaya kerja.
Dengan Gen Z semakin mendominasi pasar kerja, keterhubungan sosial menjadi variabel penting dalam pengelolaan sumber daya manusia. Isu Gen Z paling kesepian di kantor kini tidak lagi bisa diabaikan.