Beritagosip.com – Anggapan bahwa daya pikir akan terus menurun seiring bertambahnya usia ternyata tidak sepenuhnya akurat menurut penelitian ilmiah terbaru. Temuan yang menarik ini membuka harapan baru bagi masyarakat lanjut usia untuk terus meningkatkan kapasitas kognitif mereka.
Penelitian yang berlangsung selama tiga tahun melibatkan hampir 4.000 partisipan dengan rentang usia yang sangat luas, dari 19 hingga 94 tahun. Studi ini mengungkapkan bahwa kesehatan otak masih dapat ditingkatkan secara signifikan pada berbagai tahap kehidupan manusia.
Riset yang dilakukan oleh University of Texas at Dallas menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kemampuan otak dalam hal fokus, memori, ketahanan kognitif, pengelolaan emosi, hingga rasa memiliki tujuan hidup ternyata dapat berkembang ketika seseorang secara rutin melakukan aktivitas yang mendukung kesehatan otak.
Penelitian ini diselenggarakan oleh Center for BrainHealth di University of Texas at Dallas dan hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama bernama Scientific Reports. Data penelitian berasal dari The BrainHealth Project, sebuah inisiatif yang diluncurkan pada 2020 dengan tujuan mempelajari cara menjaga dan mengoptimalkan kesehatan otak sepanjang perjalanan hidup manusia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya usia tidak secara otomatis membuat seseorang kehilangan ketajaman mental dan daya pikir. Peserta dari berbagai kelompok usia justru menunjukkan peningkatan signifikan setelah mengikuti rangkaian pelatihan yang mencakup pembelajaran berbasis strategi, pendampingan personal, dan penerapan kebiasaan yang mendukung kesehatan otak.
Neurolog dari Kaiser Permanente Maryland, Ejaz Shamim, memberikan komentar yang mendukung temuan ini. Hasil penelitian ini menantang anggapan umum yang selama ini dipegang oleh banyak orang bahwa kemampuan kognitif pasti menurun pada usia tertentu.
“Semua kelompok usia menunjukkan peningkatan, yang menantang gagasan bahwa kemampuan kognitif menurun pada usia tertentu,” ujar Shamim dengan percaya diri.
Aspek menarik lainnya dari penelitian ini adalah temuan tentang potensi perkembangan pada partisipan dengan kondisi awal terburuk. Peserta yang memiliki skor awal paling rendah justru menunjukkan potensi perkembangan terbesar dalam periode penelitian.
Temuan ini memberikan harapan bahwa kemampuan kognitif yang kurang baik pada tahap awal bukan berarti tidak dapat diperbaiki. Dengan usaha yang konsisten dan metode yang tepat, bahkan kondisi kognitif yang buruk dapat ditingkatkan.
Stacey Vernon, kepala departemen adult assessment di Center for BrainHealth, mengungkapkan penemuan tambahan yang penting. Penelitian juga menemukan adanya efek pemulihan ketika kemampuan peserta sempat mengalami penurunan sementara.
Menurut Vernon, konsistensi merupakan salah satu faktor yang paling berkaitan dengan keberhasilan dalam meningkatkan kesehatan otak. Peserta yang melakukan latihan singkat selama lima hingga 15 menit setiap hari dan secara sengaja membangun kebiasaan sehat menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan yang tidak konsisten.
Kesehatan otak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Latihan kognitif memang penting, namun pola tidur, aktivitas fisik, kualitas makanan yang dikonsumsi, hingga cara seseorang menjalani aktivitas sehari-hari juga turut berperan signifikan.
Untuk menjaga fungsi otak tetap optimal, ada beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan. Pertama, hindari mengerjakan banyak hal secara bersamaan atau multitasking. Meskipun terasa efisien, kebiasaan ini dapat membuat otak lebih mudah lelah dan kehilangan fokus.
Vernon menyarankan praktik single-tasking, yakni mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu. Sediakan waktu hingga sekitar 45 menit untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi tanpa gangguan. Matikan notifikasi yang tidak diperlukan dan jauhkan sumber distraksi ketika sedang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan pemikiran mendalam.
Aktivitas fisik menjadi salah satu cara penting untuk menjaga kesehatan otak. Shamim menjelaskan bahwa sekitar 30 menit olahraga dengan intensitas sedang setiap hari dapat membantu menurunkan risiko kehilangan kemampuan kognitif secara signifikan.
Pola makan juga tidak kalah penting dalam menjaga kesehatan otak. Pola makan Mediterania yang banyak mengandalkan buah, sayur, biji-bijian utuh, lemak sehat, kacang-kacangan, dan ikan dapat menjadi salah satu pilihan terbaik untuk mendukung kesehatan otak jangka panjang.
Menjaga kesehatan otak juga berarti mengurangi faktor-faktor yang dapat memperburuknya. Berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol dapat membantu menurunkan risiko penurunan kognitif secara drastis.
Kebiasaan-kebiasaan sehat tersebut sebaiknya dilakukan secara konsisten bukan hanya ketika seseorang sudah memasuki usia lanjut, tetapi sejak dini dalam kehidupan.
Otak juga membutuhkan waktu istirahat untuk berfungsi optimal. Terlalu lama berkonsentrasi pada aktivitas yang menguras pikiran dapat menyebabkan kelelahan dan membuat seseorang lebih mudah terdistraksi dari tugas utama.
Karena itu, luangkan beberapa menit untuk berhenti sejenak di tengah kesibukan sehari-hari. Bahkan, tiga hingga lima menit tanpa teknologi dan tanpa tuntutan untuk memikirkan sesuatu yang berat dapat membantu otak beristirahat sebelum kembali beraktivitas dengan segar.
Tidak perlu langsung melakukan perubahan besar dalam gaya hidup. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari justru dapat lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang dan memberikan hasil yang berkelanjutan.
Shamim menyarankan setiap orang menemukan aktivitas, makanan, dan olahraga yang memang disukai secara personal. Dengan begitu, kebiasaan sehat tidak terasa sebagai kewajiban yang sulit dijalankan tetapi menjadi bagian menyenangkan dari rutinitas harian.
Otak membutuhkan stimulasi intelektual yang konsisten untuk tetap aktif dan sehat. Mempelajari bahasa baru, memainkan alat musik, melukis, membaca buku, atau mencoba permainan strategi seperti catur dapat menjadi cara efektif untuk menjaga otak tetap aktif dan engaged.
Tantangan juga dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan. Ketika sebuah aktivitas mulai terasa mudah, tingkatkan kesulitannya agar otak tetap mendapatkan rangsangan baru yang segar.
Kesehatan otak juga berkaitan erat dengan kualitas hubungan sosial yang dimiliki seseorang. Memiliki hubungan sosial yang bermakna dapat membantu mengurangi kesepian dan isolasi sosial, terutama pada orang-orang lanjut usia.
Vernon menekankan bahwa kualitas hubungan lebih penting daripada sekadar jumlah orang yang dikenal. Salah satu cara sederhana adalah secara rutin menghubungi orang yang berarti bagi kita. Membangun hubungan dengan orang yang memiliki pandangan berbeda juga dapat menjadi kesempatan berharga untuk melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda.
Teknologi modern juga dapat dimanfaatkan secara positif untuk menjaga komunikasi dengan keluarga, teman, maupun komunitas ketika pertemuan langsung tidak memungkinkan untuk dilakukan.